TIMES JATENG, REMBANG – Bagi para pengguna jalan yang sering melintasi Jalur Pantura Kabupaten Rembang, khususnya di wilayah Desa Bonang dan Binangun, Kecamatan Lasem, tentu tidak asing dengan pemandangan khas pesisir. Selain hamparan laut yang indah dan deretan kapal nelayan yang bersandar, kawasan ini juga dikenal sebagai pusat oleh-oleh ikan asin yang berjejer di sepanjang tepi pantai.
Kios-kios di wilayah ini beroperasi selama 24 jam penuh, menawarkan berbagai jenis ikan laut yang telah dikeringkan. Keberadaan pusat oleh-oleh ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan maupun sopir logistik yang melintas untuk membawa pulang buah tangan khas dari Bumi Kartini tersebut.
Darmiatun, salah seorang pemilik kios di kawasan tersebut, menjelaskan bahwa dagangannya mencakup berbagai jenis hasil laut yang telah diolah. Beberapa produk unggulan yang tersedia antara lain cumi, pedak, jambal roti, kakap, hingga gabus asin. Tidak hanya ikan laut, tersedia pula ikan air tawar seperti bilis, layur, dan teri.
Selain ikan kering, para pengunjung juga bisa menemukan beragam olahan kerupuk yang terbuat dari bahan dasar laut. Mulai dari kerupuk ikan, cumi-cumi, udang, rajungan, hingga terasi khas Rembang yang memiliki aroma serta rasa yang autentik.

Mengenai harga, oleh-oleh ini dibanderol dengan angka yang sangat variatif menyesuaikan jenis dan kualitasnya. Untuk produk yang paling terjangkau seperti ikan bilis, gabus, dan tiga waja, pembeli cukup merogoh kocek mulai dari Rp5 ribu saja. Namun, untuk jenis premium, harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah.
Ikan asin jambal roti menjadi komoditas paling mahal sekaligus yang paling dicari oleh konsumen. "Paling sering dicari jambal roti, harga per kilogramnya hampir sama dengan harga daging sapi, yakni sekitar Rp300 ribu," ungkap Darmiatun, .Jumat (16/1/2026)
Sebagian besar produk yang dijual di kios-kios ini merupakan hasil produksi langsung dari warga sekitar. Darmiatun berharap, dengan semakin meningkatnya jumlah kunjungan dan daya beli masyarakat, sektor UMKM pengolahan ikan ini dapat terus menggerakkan roda perekonomian warga di kampung nelayan tersebut.
Kini, kondisi penjualan berangsur-angsur kembali normal. Geliat ekonomi di jalur Pantura Lasem ini mulai pulih seiring dengan hilangnya pembatasan mobilitas masyarakat pasca-pandemi Covid-19, sehingga para pedagang kembali bisa meraup keuntungan dari para pelancong yang singgah.(*)
| Pewarta | : Ezra Vandika |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |