https://jateng.times.co.id/
Berita

Pelaku Usaha Guci di Tegal Turun Gunung, Kolaborasi Jaga Hutan dengan Masyarakat Adat

Jumat, 16 Januari 2026 - 09:55
Pelaku Usaha Guci di Tegal Turun Gunung, Kolaborasi Jaga Hutan dengan Masyarakat Adat Kolaborasi Pelaku Usaha Wisata Guci Tegal suport penanaman pohon Gunung Slamet Masyarakat Adat Reksa Wana Guci (FOTO: Cahyo Nugroho/TIMES Indonesia)

TIMES JATENG, TEGAL – Di balik alam kesejukan kawasan wisata Guci di Kabupaten Tegal yang dikenal luas, tersimpan persoalan lama yang tak banyak terlihat wisatawan yakni hutan yang perlahan tergerus alih fungsi lahan. 

Lereng Gunung Slamet tepatnya  di Dukuh Sawangan wilayah Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal, menyimpan jejak perubahan.

Sebagian kawasan hutan yang dulu rimbun kini sempat berubah menjadi lahan pertanian, menyisakan ancaman ekologis yang nyata.

Ancaman longsor, banjir musiman, hingga menurunnya debit mata air bukan sekadar catatan akademik.

Risiko itu hidup berdampingan dengan warga dan juga dunia usaha yang menggantungkan masa depan pariwisata Guci pada kelestarian alam. Di titik inilah, kepentingan lingkungan dan ekonomi bertemu.

Aksi tanam pohon yang digelar Masyarakat Adat Reksa Wana Guci bersama warga Dukuh Sawangan menjadi momen penting.

Bukan hanya sebagai simbol pemulihan hutan, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi baru antara masyarakat adat, warga, dan pelaku usaha. 

Bagi kawasan wisata seperti Guci, hutan di Gunung Slamet bukan hanya sekadar latar belakang keindahan, melainkan fondasi keberlanjutan ekonomi.

Selama bertahun-tahun, berbagai upaya penanaman pernah dilakukan pemerintah daerah bersama aparat TNI dan Polri. Namun tanpa pengawasan yang konsisten, banyak bibit tak bertahan. 

Di sisi lain, konflik dengan para penggarap lahan membuat persoalan kian rumit. Kondisi ini menyadarkan banyak pihak bahwa pendekatan struktural saja tidak cukup.

Menyikapi hal tersebut Masyarakat Adat Reksa Wana Guci kemudian mengambil peran, memulai pendekatan kultural yang perlahan membuka jalan rekonsiliasi. 

Dipimpin tokoh adat Mbah Birin, mereka membangun dialog dengan penggarap hingga tercapai kesepakatan meninggalkan lahan dan menjaga hutan bersama-sama.

Kesepakatan inilah yang menjadi landasan moral bagi pemulihan kawasan.

Haji Pambudi, pelaku usaha di kawasan wisata Guci bersama Heri Siswanto, Sukirno Quraist dan Kades Desa Rembul dan anggota DPRD Sri Lestari serta Nofiyatul Faroh, melihat langsung keterkaitan antara kelestarian hutan dan keberlangsungan usaha pariwisata.

“Kalau hutannya rusak, wisata juga akan mati. Tidak ada pilihan lain selain ikut menjaga,” ujarnya disela aksi tanam pohon bersama masyarakat.

Berbeda dari pola dukungan yang bersifat simbolik, Pambudi menekankan pentingnya keterlibatan jangka panjang dunia usaha. Menurutnya, penanaman pohon harus dibarengi dengan monitoring, pengawasan, dan komitmen pendanaan berkelanjutan.

Ia bersama pelaku usaha lain menyatakan kesiapan mendukung kebutuhan program, mulai penyediaan bibit,  pembangunan posko atau shelter pengawasan, hingga dukungan operasional untuk memastikan kawasan hutan tetap terjaga. 

Bagi para pelaku usaha di kawasan wisata guci, investasi lingkungan bukan beban, melainkan langkah strategis menjaga ekosistem yang menopang sektor wisata.

Kolaborasi ini menunjukkan pergeseran cara pandang dunia usaha terhadap lingkungan. Hutan tidak lagi dilihat sebagai objek yang terpisah dari aktivitas ekonomi, melainkan mitra hidup yang menentukan keberlanjutan. 

Di kawasan wisata Guci, para pelaku usaha mulai menyadari bahwa keuntungan jangka panjang hanya mungkin diraih jika alam tetap lestari.

Aksi tanam pohon di Dukuh Sawangan pun menjadi lebih dari sekadar giat lingkungan.

Ia menjadi penanda tumbuhnya kesadaran kolektif bahwa menjaga hutan  tanggung jawab bersama, masyarakat adat dengan kearifan lokalnya, warga dengan komitmen sosialnya, dan pelaku usaha dengan dukungan sumber dayanya.

Di lereng Bumijawa, pohon-pohon muda kini berdiri sebagai harapan,  bahwa satu kolaborasi lintas kepentingan bisa menjadi model baru pengelolaan lingkungan. 

Bahwa ketika dunia usaha mau turun gunung dan ikut berjibaku, hutan tidak hanya bisa diselamatkan, tapi juga menjadi penopang masa depan bersama. (*)

Pewarta : Cahyo Nugroho
Editor : Ronny Wicaksono
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jateng just now

Welcome to TIMES Jateng

TIMES Jateng is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.