TIMES JATENG, REMBANG – Batik bukan sekadar kain tradisional, melainkan warisan budaya Nusantara yang sarat akan makna mendalam. Di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Batik Lasem menjadi salah satu ikon budaya yang menonjol karena setiap goresan motifnya memiliki filosofi tersendiri yang mencerminkan nilai-nilai kehidupan dan sejarah masyarakat setempat.
Tasini (50), salah seorang pembatik asal Kecamatan Lasem, menjelaskan bahwa ciri khas utama Batik Lasem terletak pada sejarah pembentukannya. Setiap motif merupakan hasil akulturasi atau perpaduan harmonis antara budaya Tiongkok dan Jawa. Hingga saat ini, Batik Lasem terus berinovasi dengan memunculkan beragam corak mulai dari motif Latohan, Sekar Jagad Tiga Negeri, hingga Gunung Ringgit.
Salah satu motif yang memiliki filosofi kuat adalah Gunung Ringgit. Tasini memaparkan bahwa motif ini merupakan simbol dari kelapangan rezeki bagi pemiliknya. Bentuknya yang khas melambangkan tumpukan kekayaan yang diharapkan dapat membawa keberuntungan bagi siapa saja yang mengenakannya.
“Kalau Gunung Ringgit itu artinya uangnya banyak seperti gunung. Sehingga yang memakai batik ini diharapkan punya rezeki banyak,” ujar Tasini sebagaimana dikutip dari situs resmi Pemprov Jateng, Jumat (16/1/2026). Harapan akan kemakmuran inilah yang membuat motif ini tetap diminati oleh para pecinta batik hingga sekarang.
Selain simbol kekayaan, Batik Lasem juga mengangkat kearifan lokal pesisir melalui motif Latohan. Motif ini terinspirasi dari tanaman latoh, sejenis rumput laut berbentuk butiran kecil hijau yang menyegarkan. Latoh sendiri merupakan makanan khas penduduk pesisir Lasem, sehingga pengabdiannya ke dalam motif batik menjadi bentuk apresiasi terhadap kekayaan alam laut mereka.
Tak kalah penting, terdapat motif Sekar Jagad Tiga Negeri yang memiliki makna sosial yang tinggi. Motif ini dikenal sebagai simbol perdamaian dan persatuan. Perpaduan warna dan corak dalam Tiga Negeri merepresentasikan harmoni di tengah keberagaman, menjadikannya salah satu mahakarya batik yang paling dihormati dalam tradisi batik pesisiran. (*)
| Pewarta | : Ezra Vandika |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |