TIMES JATENG, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melaporkan progres positif dalam upaya pengendalian penyakit Tuberkulosis (TBC) sepanjang tahun 2025. Hingga saat ini, penemuan kasus di Jawa Tengah telah mencapai angka 84 persen, mendekati target nasional yang ditetapkan sebesar 90 persen.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menjelaskan bahwa pencapaian ini merupakan modal kuat bagi pemerintah daerah untuk mengakselerasi target yang lebih ambisius di tahun-tahun mendatang. Hal tersebut ia sampaikan dalam pelantikan Pengurus Wilayah Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Jateng periode 2025–2030 di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, Semarang, Kamis (22/1/2026).
Berdasarkan data teknis, tingkat penderita yang memulai pengobatan (treatment coverage) di Jateng berada di angka 94,7 persen. Sementara itu, angka kesembuhan saat ini berada di posisi 85 persen dari target 90 persen. Gus Yasin menekankan bahwa keberhasilan penanganan TBC tidak hanya diukur dari penemuan kasus, tetapi dari komitmen pasien menyelesaikan masa pengobatan.
"TBC ini tidak hanya cukup diobati, tetapi harus tuntas supaya masyarakat ini tetap sehat," tegas Gus Yasin.
Sinergi Komunitas Menuju Eliminasi 2030
Sesuai dengan mandat Peraturan Presiden Nomor 67/2021, Indonesia menargetkan eliminasi TBC pada tahun 2030. Target spesifiknya adalah menekan angka kejadian hingga 65 per 100 ribu penduduk dan menurunkan angka kematian menjadi 6 per 100 ribu penduduk.
Wagub Jateng menilai peran komunitas dan organisasi masyarakat seperti PPTI sangat krusial sebagai ujung tombak di lapangan. Komunitas berperan besar dalam menjangkau masyarakat lapisan bawah, mulai dari edukasi, penjaringan suspek, hingga pendampingan agar pasien tidak putus obat.
"Kesempatan ini adalah tanggung jawab yang luar biasa, yaitu bukan hanya menemukan, tetapi juga harus mengobati. Bukan hanya mengobati saja, tetapi juga harus sampai tuntas," tambahnya.
Dalam acara tersebut, Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, juga resmi dilantik sebagai Ketua Badan Kehormatan PPTI Jateng. Kehadiran PKK dan organisasi masyarakat lainnya diharapkan mampu mencegah munculnya kasus TBC resisten obat yang lebih sulit ditangani.
Pemprov Jateng meyakini bahwa pengendalian TBC yang sukses akan berdampak langsung pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di wilayah tersebut, selaras dengan prioritas pembangunan nasional. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Penemuan Kasus TBC Jateng Capai Angka 84 persen
| Pewarta | : Antara |
| Editor | : Deasy Mayasari |