Begini Cara MI Ma’arif Giritengah Magelang Tanamkan Adab dan Doa pada Siswa
Sekitar 90 siswa MI Ma’arif Giritengah bersama 10 guru pendamping berbaris rapi menuju sebuah tempat yang menjadi akar sejarah keberadaan madrasah.
MAGELANG – Pagi yang tenang di Dusun Mijil, Desa Giritengah, Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang, terasa berbeda pada Jumat (13/2/2026).
Di bawah naungan langit yang teduh, sekitar 90 siswa MI Ma’arif Giritengah bersama 10 guru pendamping berbaris rapi.
Bukan untuk menuju lapangan olahraga, langkah kaki mungil mereka diarahkan menuju sebuah tempat yang menjadi akar sejarah keberadaan madrasah mereka, makam tempat para tokoh yang dipandang berjasa atas keberadaan MI Ma'arif Giritengah.
Kegiatan ziarah ini merupakan agenda rutin 'Selapanan' yang dilaksanakan setiap Jumat Legi.
Sebuah momentum yang dipilih bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk penghormatan pada hari yang disakralkan dalam tradisi pesantren dan masyarakat setempat untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta sekaligus mengenang jasa para pendahulu.
Langkah kaki para siswa kelas satu hingga enam ini berhenti di area pemakaman desa, tempat Kiai Sarbini, Kiai Sochib dan Kiai Zainudin beristirahat dengan tenang. Ketiga tokoh inilah yang dipandang sebagai pilar utama sekaligus peletak pondasi pendidikan Islam di Giritengah.
Tanpa perjuangan mereka di masa lampau, MI Ma'arif Giritengah mungkin tak akan pernah menjadi pelita ilmu bagi anak-anak di kaki perbukitan Menoreh.
Suasana berubah menjadi sangat khusyuk saat Ustadz Tasrib, tokoh agama desa setempat, mulai memimpin pembacaan tahlil dan doa. Suara lantunan zikir dari mulut para siswa pun mengalun, memecah kesunyian makam.
"Sesuai dengan jatidiri lembaga Madrasah Ibtidaiyah, kami ingin menguatkan aspek religius siswa. Ziarah ini adalah sarana membentuk generasi yang sadar akan nilai-nilai spiritual beragama, agar kelak mereka tumbuh menjadi anak yang saleh dan salehah," ujar Ustadz Tasrib.

Setelah prosesi di makam usai, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama di teras -teras depan kelas madrasah. Seluruh murid berkumpul, menyatukan niat dalam doa yang lebih luas untuk keselamatan dan keberkahan sekolah.
Rusmiyati, salah satu wali murid yang turut hadir, mengungkapkan rasa harunya melihat kegiatan ini tetap terjaga. Menurutnya, ini adalah bekal karakter yang tidak didapatkan dari buku teks saja.
"Ini adalah sebuah cara yang mengajarkan nilai spiritual kepada anak-anak sejak dini. Melalui doa dan ziarah, mereka belajar menghargai jasa para tokoh agama yang sudah tiada," tutur Rusmiyati.
"Harapan kami, dengan keberkahan doa ini, anak-anak mendapatkan kemudahan dalam menerima ilmu di sekolah," sambungnya.
Sementara itu, Kepala MI Ma'arif Giritengah, Ruaidanazila, menegaskan bahwa menjaga tradisi adalah cara terbaik untuk melihat masa depan.
Ia berharap kegiatan Jum'at Legi ini menjadi pengingat bagi seluruh warga sekolah akan tanggung jawab meneruskan perjuangan para pendiri.
Selain itu, harapan sekolah, melalui kegiatan ini para siswa juga memiliki ikatan batin dengan para pendiri madrasah.
"Kita tidak hanya ingin melahirkan siswa yang cerdas secara akademik, tapi juga memiliki adab yang luhur kepada guru dan pendahulunya. Inilah identitas kita sebagai keluarga besar MI Ma’arif Giritengah," pungkas Ruaidanazila.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.


