https://jateng.times.co.id/
Berita

Riset BRIN: Degradasi Lamun di Jawa dan Sumatra Picu Emisi Karbon Tertinggi

Sabtu, 17 Januari 2026 - 11:59
Riset BRIN: Degradasi Lamun di Jawa dan Sumatra Picu Emisi Karbon Tertinggi Foto udara sebuah alat berat beroperasi di kawasan Hutan Mangrove Sriwulan Terboyo, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (12/9/2025). ANTARA

TIMES JATENG, JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa emisi karbon dari ekosistem lamun di Indonesia menunjukkan perbedaan signifikan antarwilayah. Riset terbaru menunjukkan wilayah Jawa dan sebagian Sumatra memiliki faktor emisi karbon tertinggi dibandingkan kawasan pesisir lainnya.

Peneliti Pusat Riset Oseanologi BRIN, Aan Johan Wahyudi, menjelaskan bahwa degradasi padang lamun di wilayah barat Indonesia berpotensi melepaskan karbon ke atmosfer dalam jumlah besar.

“Selama ini pembahasan karbon biru lebih banyak menyoroti kemampuan ekosistem menyerap karbon. Padahal, dalam carbon accounting, yang dihitung tidak hanya penyerapan, tetapi juga emisi karbon akibat degradasi,” kata Aan dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.

Dalam riset tersebut, BRIN menggunakan metode perhitungan faktor emisi karbon lamun, yakni indikator yang menunjukkan jumlah karbon yang dilepaskan ke atmosfer per satuan luas ekosistem per tahun akibat gangguan atau kerusakan.

Aan menjelaskan bahwa faktor emisi menggambarkan laju hilangnya karbon yang sebelumnya tersimpan dalam biomassa lamun, sekaligus mencerminkan proses awal pelepasan karbon dari sistem pesisir.

Untuk memperoleh gambaran perubahan karbon dari waktu ke waktu, tim peneliti menerapkan pendekatan chronosequence modeling dengan membandingkan kondisi padang lamun yang masih relatif baik dan yang telah mengalami degradasi.

Hasil analisis menunjukkan faktor emisi karbon lamun di Indonesia berada pada kisaran 0,53 hingga 3,25 ton karbon per hektare per tahun. Nilai tertinggi tercatat di wilayah pesisir dengan tekanan antropogenik tinggi, khususnya Jawa dan sebagian Sumatra.

Sebaliknya, kawasan Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi, dan Maluku menunjukkan faktor emisi yang lebih rendah karena tekanan aktivitas manusia di wilayah pesisir relatif lebih kecil.

“Wilayah dengan kepadatan penduduk dan aktivitas pesisir yang tinggi memiliki potensi emisi karbon yang jauh lebih besar,” ujarnya.

Aan menambahkan, fungsi lamun sebagai penyimpan karbon dapat berubah drastis ketika ekosistem tersebut terganggu. Aktivitas manusia seperti reklamasi, pengerukan, dan peningkatan sedimentasi dinilai menjadi faktor utama degradasi padang lamun.

Meski lamun memiliki kemampuan alami untuk menyaring sedimen, kemampuan tersebut memiliki batas. Ketika beban sedimen berlebihan, keseimbangan ekosistem akan terganggu dan memicu pelepasan karbon.

“Ketika lamun sehat, karbon akan diserap dan disimpan. Namun saat rusak, bagian lamun seperti daun dan akar mengalami pembusukan. Proses dekomposisi itulah yang melepaskan karbon dioksida ke atmosfer,” kata Aan.

Temuan ini menegaskan pentingnya perlindungan ekosistem lamun sebagai bagian dari strategi pengendalian perubahan iklim dan pengelolaan wilayah pesisir secara berkelanjutan. (*)

Pewarta : Imadudin Muhammad
Editor : Imadudin Muhammad
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jateng just now

Welcome to TIMES Jateng

TIMES Jateng is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.