TIMES JATENG, MAGELANG – Pohon randu berusia ratusan tahun yang jadi bagian dari identitas Tuksongo, Borobudur, akhirnya mendapatkan kesempatan untuk tetap hidup. Pemerintah Kabupaten Magelang melalui tim Dinas Lingkungan Hidup (DLH) memutuskan untuk melakukan studi mendalam guna menentukan apakah pohon ini masih layak diselamatkan.
Salah satu pengiat lingkungan, yang rumahnya tidak jauh dari pohon randu tersebut, Maher Dharma Wijaya, menuturkan bahwa ia mendapatkan cerita dari ayahnya, yangmana ayahnya juga mendapatkan dari kakeknya, mengatakan bahwa pohon randu itu sudah ada dan sebesar sekarang ini.
"Sejak jaman saya, pohon randu itu sudah ada dan sudah sebesar itu," ucap Maher dengan bahasa jawa menirukan apa yang diucapkan sang ayah yang kini usianya sudah sekitar 70 tahun.
Pohon randu alas, yang akan ditebang karena dianggap sudah mati. (FOTO: Hermanto/ TIMES Indonesia)
Menurut pengamatan Maher, yang pernah menanam dan merawat lebih dari 50 jenis pohon beringin di kawasan Menoreh dan beberapa pegunungan lainnya, menjelaskan bahwa pohon randu itu memiliki 4 siklus hidup dalam 1 tahun.
"4 bulan berdaun, 4 bulan rontok dan 4 bulan mengering, saat mengering inilah banyak yang menganggap pohon itu telah mati, sebenernya tidak," tegasnya.
Kali ini Maher memang menemukan keanehan dalam siklus hidup pohon randu tersebut. Selama ini ia belum pernah menjumpai pohon randu itu sampai sangat kering dan kulit kayunya mengelupas cukup banyak.
"Setelah saya amati dan saya tanyakan ke beberapa ahli, ternyata pohon randu itu sedang sakit, namun belum mati," imbuhnya.
Untuk menjaga agar tetap hidup, Maher rela menyirami pohon randu itu. Ia dibantu Aan, yang merupakan kakak sepupunya berupaya agar pohon itu tetap hidup dan tetap menjadi ikon di desanya.
Hampir 2 bulan, ia dan Aan dengan sukarela merawat pohon itu. Beberapa pupuk organik yang ia perolehan dari para ahli tanaman, juga ia aplikasikan.
"Saya dan Aan, bergantian untuk saling merawat, kalaupun akhirnya nanti jadi ditebang, minimal saya pernah melakukan yang terbaik untuk pohon itu," katanya kepada TIMES Indonesia (Kamis, 15/1/2026).
Tidur di Bahwan Pohon
Untuk mendapatkan kepastian apakah pohon randu itu masih hidup seperti yang disangkakan, Maher rela 2 kali tidur di bawah pohon itu. Ia mencoba mencari jawaban dari alam.

"Saya memang tidak tahu dunia mistis, tapi saya yakin pohon itu bisa menjawab apa yang saya rasakan dan saya tanyakan kepada pohon itu, akhirnya beberapa hari kemudian, saya menemukan 3 tunas pohon randu di bawahnya, dan 1 tunas menempel di pohonnya. Ini menjadi bukti kuat bahwasanya pohon itu menjawab pertanyaan saya, sekaligus menjadi bukti bahwa pohon belum mati," tegas Maher.
Saat pertama kali ditebang, pohon randu yang memiliki tinggi sekitar 30 meter itu juga mengeluarkan getah berwarna merah yang menyerupai darah. Maher menerangkan bahwa itu juga merupakan bukti masih adanya kehidupan.
Getah berwarna merah yang menyerupai darah, keluar saat sebagian batang pohon ditebang. Hal ini sebenarnya proses alamiah, sebagai salah satu tanda bahwa sebuah pohon masih hidup.
"Memang menjadi salah satu sifat dari pohon jenis randu, bila tergores atau tersayat terlebih jika terpotong pasti akan mengeluarkan cairan berwarna merah menyerupai darah," pungkas Maher. (*)
| Pewarta | : Hermanto |
| Editor | : Ferry Agusta Satrio |