TIMES JATENG, BANJARNEGARA – Puluhan petani cabai di daerah Banjarnegara Selatan Jawa Tengah mengeluh karena harganya merosot tajam. Sebelum tahun baru 2026 misalkan, harga cabai merah tembus Rp52.000 per kilogram, kini hanya Rp12.000 - 13.000 per kilogram.
Para petani tidak dapat berbuat banyak terhadap anjloknya harga cabai. Mereka hanya pasrah dan tetap memanen cabainya yang sudah tua, walau harus merugi.
Mereka berharap harga bisa kembali naik mencapai harga minimal Rp20.000 per kilogram, sehingga ada ada sedikit keuntungan. "Kami tetap memanen cabai, karena sudah masanya dipetik walau merugi," ungkap Hadi (50) petani asal Desa Pucung Bedug Kecamatan Purwanegara.
Ditanya TIMES Indonesia saat memeriksa cabai, Hadi menyampaikan, tanaman cabai milik para petani di Pucung Beduk sebenarnya cukup bagus, walau ada beberapa blok lahan yang terkena hama seperti ulat dan tikus.
"Alhamdulillah kami sudah memanen beberapa kali, tapi mengingat harganya anjlok jadi belum ada keuntungan karena modalnya cukup besar," ungkapnya seraya menambahkan jika harganya bagus, tanaman cabainya masih bisa produktif jika kembali dipupuk.
Terpisah, Yaswito, petani asal Kutawuluh Kecamatan Bawang Banjarnegara, mengaku baru memulai panen cabe merah sehingga memperkejakan ibu - ibu cukup banyak.
"Saya tetap memanen cabai karena sudah masanya dipetik. Kita jelas rugi mas, tapi ya mau gemana lagi. Kita hanya berdoa semua harganya naik lagi," turut Suwito penuh harap.
Kades Pucung Bedug, Heru maupun Sekdesnya, Sudaryo mengaku prihatin atas menurunnya harga capai. Namun pihaknya tidak bisa berbuat apa - apa kecuali melaporkan fenomena ini kepada dinas terkait.
Disampaikan luasan tanaman cabai di Pucung Bedug mencapai 80 ha. Sehingga modal yang terserap mencapai milyaran rupiah.
Dengah harga Rp13.000 petani jelas rugi besar mengingat biaya tanam cabai sangat besar. "Kami sudah berusaha menghubungi berbagai pihak terkait anjloknya harga cabai. Kita hanya berharap harga cabai bisa naik," ujar Heru, Senin (19/1/2026)
Karsono, salah satu anggota DPRD Banjarnegara asal Pucung Beduk juga mengaku prihatin dan meminta stakeholder holder terkait perduli terhadap anjloknya harga cabai yang semakin tidak terkontrol.

"Memang kejadian ini selalu terulang saat panen raya. Namun jika penurunan harga seperti saat ini, Rp13.000/kilogram. Maka petani rugi besar. Padahal biaya perawatan per pohon (tanam - Panen) mencapai Rp15.000. Ya sudah bisa dihitung berapa kerugiannya," jelas Karsono yang juga memiliki lahan cabai.
Sementara Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banjarnegara Firman Sapta Ady SPt melalui Kabid Holtikultura dan Perkebunan Pawit Setianto menjelaskan, bahwa penurunan harga cabai dimungkinkan disebabkan oleh stok lapangan secara nasional sedang tinggi pasca Natal dan Tahun Baru.
Diakuinya, tanaman cabai di Banjarnegara saat banyak kendala, seperti serangan virus kuning, pathek, juga layu sehingga bisa berpengaruh kualitas cabe kurang bagus hingga berimbas pada harga jual.
Disampaikan juga bahwa harga cabai yang terbentuk merupakan harga alamiah, dimana penawaran dan permintaan saling berpengaruh dan tidak bisa hanya melihat stok lokal saja.
Lancarnya distribusi cabai antar kota bahkan antar pulau membuat aliran barang akan bersaing lebih cepat dan kuat di pasaran. Pada stok cabai sedikit akan bersaing dengan harga yang tinggi begitu pula sebaliknya.
Pemerintah berharap para petani untuk menjaga kualitas cabai yang lebih tahan pengiriman jarak jauh sehingga pemasaran juga bisa lebih jauh juga.
Ditambahkan, bagi yang sudah menemukan pasar semi permanen atau mungkin juga sudah langganan untuk dijaga kualitas dan konsisten dengan pola pengiriman baik pada saat harga tinggi maupun pada saat harga rendah.
Sebagai contoh petani cabai di Banjarnegara atas khususnya di Desa Tempuran Kecamatan Wanayasa bisa menjual cabai sampai ke Jambi, baik pada saat harga murah maupun mahal tetap menjaga hubungan bisnisnya dengan pembeli. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Harga Melorot Tajam Petani Cabai di Banjarnegara Selatan Pasrah
| Pewarta | : Muchlas Hamidi |
| Editor | : Deasy Mayasari |