TIMES JATENG, SALATIGA – Sarasehan pembinaan karakter Karate digelar pada Sabtu malam (29/11/2025) di Gedung BinaDarma Salatiga, usai rangkaian Gashuku ASKI Jawa Tengah. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bagi para karateka untuk memahami esensi latihan, tidak hanya dari aspek teknik, tetapi juga dari pembentukan karakter.
Ketua Dewan Guru Akademi Seni-beladiri Karate Indonesia (ASKI), Sihan Ucok Marisu menegaskan bahwa seluruh latihan yang dijalani para peserta bukan sekadar rutinitas fisik. Setiap gerakan, disiplin, dan kebiasaan yang dibangun selama berlatih merupakan proses panjang yang menumbuhkan keberanian, kepercayaan diri, hingga keteguhan karakter.
"Keberanian itu muncul tanpa disadari. Rasa percaya diri tumbuh pelan-pelan. Itulah modal dasar yang kita bangun melalui latihan," ujarnya.

Ia menambahkan, kualitas pribadi seperti disiplin, ketelitian, fokus, dan kemampuan mengendalikan diri terbentuk melalui proses berulang. Bahkan ketika peserta merasa belum maksimal, perkembangan karakter mereka tetap jauh lebih baik dibandingkan lingkungan luar yang tidak menjalani latihan serupa.
Sihan Ucok juga menekankan bahwa pembentukan karakter adalah proses progresif yang membutuhkan tahapan. Ia mengibaratkan perkembangan manusia sejak bayi: mulai merangkak, berjalan, hingga akhirnya berlari.
"Tidak ada yang langsung bisa. Semuanya bertahap. Itu konsep progresif. Mulai dari nol, naik sedikit demi sedikit. Tidak ada keajaiban," tegasnya.
Para karateka juga diajak memahami prinsip setiap gerakan, termasuk aspek fisika tubuh, kesehatan, dan detail teknik. Latihan yang benar, menurutnya, akan memperkuat tubuh sekaligus mempertajam karakter.
Salah satu penekanan penting adalah filosofi Jepang Ichigo Ichie, yang mengajarkan kesadaran penuh dalam setiap momen. Prinsip ini disebut sangat relevan dalam latihan, termasuk saat memainkan kata.
"Kalau kamu main jurus KATA, jangan sampai pikiranmu ke mana-mana. Mulai dengan hormat, akhiri dengan hormat. Itu bentuk kesadaran dan penghormatan," jelasnya.
Ia kembali menegaskan bahwa latihan karate bukan hanya membentuk kemampuan beladiri, tetapi juga membangun pribadi yang santun, disiplin, dan mampu mengendalikan diri.
"Pikiran harus jernih, hati harus terbuka. Itulah kualitas karakter yang kita bentuk. Itu yang membuat seorang karateka berbeda," ungkapnya.

Di akhir sesi, instruktur menyampaikan pesan khusus terkait penggunaan teknologi dan media sosial, terutama bagi karateka usia muda. Ia menekankan bahwa karakter yang dibangun dalam dojo harus tercermin pula dalam perilaku digital.
"Kalian harus mampu menggunakan teknologi secara bijak. Di handphone itu banyak hal yang tidak baik. Kalian harus bertanya pada diri sendiri: ini benar atau tidak? Itu bagian dari latihan mengendalikan diri," pesannya.
Ia mengingatkan agar karateka tidak terjebak dalam konten yang tidak sesuai usia, serta menjadikan media sosial sebagai ruang positif, misalnya untuk membagikan semangat latihan, bukan hal-hal yang tidak bermanfaat.
"Latihan karate itu juga mengurangi waktu kalian untuk bermain medsos yang tidak benar. Gunakan medsos untuk hal yang baik. Kalau latihan, ya unggah yang positif. Tunjukkan perkembangan diri," tambahnya.
Sesi malam tersebut menjadi penutup kegiatan hari itu sekaligus penguatan nilai-nilai dasar yang wajib dipahami seluruh karateka ASKI Jawa Tengah. Dengan pembinaan karakter ini, diharapkan para peserta tidak hanya menjadi karateka yang kuat secara teknik, tetapi juga pribadi yang berintegritas dan berkarakter. (*)
| Pewarta | : Sutrisno |
| Editor | : Faizal R Arief |