Suasana Masjid Jogokariyan Kota Yogyakarta. (Foto: Yahya/TIMES Indonesia)

Masjid Jogokariyan: Dari Kampung Prajurit Keraton dan Gejolak 1965 Kini Jadi Ikon Masjid Modern

Dari kampung prajurit keraton dan lahan rawa, Masjid Jogokariyan kini jadi ikon masjid modern di Yogyakarta. Simak kisah panjangnya yang pernah menjadi kawasan dinamika 1965 hingga pusat pelayanan umat.

TIMES Jateng,Sabtu 4 Juli 2026, 17:54 WIB
160
A
A Riyadi

JOGJAYOGYAKARTA – Di balik ramainya ribuan jemaah yang memadati Masjid Jogokariyan setiap hari, tersimpan kisah sejarah yang tak banyak diketahui masyarakat. Sulit dipercaya, kawasan yang kini dikenal sebagai pusat dakwah dan pemberdayaan umat itu pernah menjadi wilayah dengan dinamika politik yang sangat kuat pada era sebelum 1965.

Kini, Masjid Jogokariyan tidak hanya menjadi ikon Kota Yogyakarta, tetapi juga menjadi rujukan pengelolaan masjid modern yang dipelajari berbagai kalangan, dari pengurus masjid dalam negeri hingga tamu mancanegara.

Berawal dari Kampung Prajurit Keraton

Nama Jogokariyan berasal dari kata "jogo" (menjaga) dan "kari" (prajurit). Kawasan ini dahulu dihuni para prajurit Keraton Yogyakarta dari Kesatuan Mantrijeron yang bertugas menjaga wilayah selatan keraton. Kampung ini mulai dibuka sekitar tahun 1822 pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono IV.

Perubahan besar terjadi pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono VII ketika banyak prajurit kehilangan pekerjaan dan memperoleh lahan pertanian sebagai pengganti. Lahan tersebut kemudian dijual kepada para pengusaha batik dan tenun yang akhirnya menetap di kawasan Jogokariyan.

Pernah Menjadi Kawasan dengan Dinamika Politik yang Kuat

Sebelum berdirinya masjid, kawasan ini dikenal sebagai daerah yang memiliki basis simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI). Ironisnya, hingga pertengahan 1960-an belum terdapat masjid yang menjadi pusat aktivitas umat Islam. Warga hanya memiliki langgar sederhana berukuran sekitar 3 x 4 meter.

Situasi sosial berubah drastis setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965. Sejumlah tokoh masyarakat memandang perlunya menghadirkan sebuah masjid sebagai pusat ibadah sekaligus ruang membangun kembali kehidupan sosial masyarakat.

Dibangun dengan Semangat Gotong Royong

Pada 20 September 1966 dilakukan peletakan batu pertama di atas tanah wakaf seluas 600-700 meter persegi yang sebelumnya berupa lahan rawa. Pembangunan dilakukan secara swadaya dan diresmikan pada 20 Agustus 1967.

Nama "Jogokariyan" dipilih mengikuti tradisi Rasulullah SAW yang menamai masjid berdasarkan lokasi tempat berdirinya.

Dari Masjid Kampung Menjadi Ikon Nasional

Perubahan besar mulai terjadi pada 1999 ketika Ustaz Muhammad Jazir dipercaya menjadi Ketua Takmir. Di bawah kepemimpinannya lahir filosofi "Memasyarakatkan Masjid dan Memasjidkan Masyarakat."

Masjid ini menerapkan sistem pengelolaan profesional dengan transparansi keuangan. Program sosial seperti ATM Beras, penginapan syariah gratis, layanan kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi menjadi kekuatan utama.

Tami, jemaah asal Kediri, mengaku: "Setiap datang ke sini rasanya seperti pulang ke rumah sendiri. Masjid selalu hidup, bukan hanya saat Ramadan, tetapi sejak Subuh hingga malam hari."

Achmad S., relawan hampir dua dekade, menambahkan: "Masjid ini mengajarkan bahwa rumah ibadah dapat menjadi pusat pelayanan sekaligus jembatan perdamaian bagi semua orang."

Masjid Jogokariyan menjadi simbol rekonsiliasi sosial, membuka ruang bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa stigma, dan menjadi inspirasi pengelolaan masjid modern di Indonesia. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:A Riyadi
|
Editor:Faizal R Arief

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jawa Tengah, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.