Pernyataan Koai Ubaidillah Terkait Sejarah Alun-Alun dan Kerajaan Disanggah Sejarawan Lasem
Yon Suprayoga menilai narasi tersebut tidak sesuai dengan fakta sejarah dan berpotensi memicu dikotomi yang mendiskreditkan hubungan historis antara masyarakat Lasem dan Rembang.
REMBANG – Pegiat sekaligus tokoh sejarah dan budaya Lasem, Yon Suprayoga, menyanggah keras ceramah yang disampaikan Dr. KH. Ubaidillah Tamam Munji terkait sejarah Alun-Alun Lasem serta kronologi kerajaan di wilayah Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
Pernyataan yang dinilai keliru tersebut disampaikan Kiai Ubaidillah saat mengisi ceramah pada acara Haul Pangeran Sido Laut di Alun-Alun Lasem, Kamis (31/7), yang digelar dalam rangkaian Peringatan Hari Jadi ke-285 Kabupaten Rembang.
Dalam ceramahnya, Kiai Ubaidillah menyebut bahwa Alun-Alun Lasem merupakan bangunan baru dan membandingkan latar belakang masyarakat Rembang yang mengikut Kerajaan Demak dengan masyarakat Lasem yang mengikut Majapahit.
Yon Suprayoga menilai narasi tersebut tidak sesuai dengan fakta sejarah dan berpotensi memicu dikotomi yang mendiskreditkan hubungan historis antara masyarakat Lasem dan Rembang.
"Itu kalau menurut saya keliru besar. Alun-Alun Lasem itu bukan baru dibuat, melainkan direkonstruksi melalui program revitalisasi Kota Pusaka untuk mengembalikan fungsinya seperti di masa lalu," kata Yon saat dikonfirmasi via WhatSapp, Minggu,(2/8/2026) sore.
Yon menjelaskan, Catatan Carita Sejarah Lasem ( CSL) telah merekam keberadaan Alun-Alun Lasem sejak abad ke-18.
Ia menuturkan, pada sekitar tahun 1755, sebelum terjadi pertempuran melawan kompeni Belanda, laskar gabungan yang terdiri dari Laskar Santri pimpinan Kiai Ali Badawi, Laskar Jawa pimpinan Raden Panji Margono, dan Laskar Tionghoa pimpinan Oei Ing Kiat mengadakan sumpah setia di Alun-Alun Lasem, tepat di depan masjid usai Shalat Jumat.
"Artinya, alun-alun itu sudah ada sejak dulu. Kemarin ada revitalisasi itu hanya mengembalikan lahan yang sempat beralih fungsi menjadi pasar dan terminal kembali ke bentuk aslinya. Bukan baru dibuat sekarang," ujarnya.
Kekeliruan Kronologi Sejarah
Selain persoalan alun-alun, Yon juga menyoroti kronologi sejarah kerajaan yang disampaikan dalam ceramah tersebut.
Menurutnya, menyandingkan Kerajaan Majapahit dan Mataram Islam seolah-olah berada dalam satu zaman merupakan bentuk kekeliruan anakronisme sejarah.
"Kalau mendengarkan pidato beliau, seolah-olah Majapahit dan Mataram Islam itu sezaman. Padahal, Majapahit runtuh sekitar abad ke-16, disusul Demak, Pajang, baru kemudian berdiri Mataram Islam pada abad ke-17. Ada jeda waktu hingga seratus tahun lebih," tutur Yon.
Ia menyayangkan masuknya narasi sejarah yang kurang akurat dalam agenda resmi peringatan hari jadi daerah, terlebih disampaikan oleh seorang tokoh berkualifikasi akademis doktor.
Yon berharap pihak-pihak yang berbicara di hadapan publik terkait sejarah lokal dapat lebih berhati-hati atau meluruskan pernyataan tersebut agar tidak menyesatkan pemahaman masyarakat.
"Kalau memang tidak memahami detail sejarah Lasem, sebaiknya tidak disampaikan di forum umum seperti itu. Harapan saya ada pelurusan agar narasi sejarah yang beredar di masyarakat tetap proporsional dan sesuai dengan fakta literatur yang ada," pungkas Yon. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

