Mengenal Patra Manggala, Penjaga Jejak Harmoni dalam Grebeg Suro Batuagung Tegal
Tradisi Grebeg Suro ini telah berlangsung setiap tahun di mana masyarakat berkumpul untuk mengungkapkan rasa syukur atas limpahan rezeki yang diberikan Tuhan melalui alam.
TEGAL – Pagi itu, langit Desa Batuagung, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal, terasa lebih hidup dari biasanya. Ribuan pasang mata tertuju pada dua gunungan raksasa yang berdiri megah di tengah keramaian.
Suara warga bergema ketika kirab usai dan aba-aba pembagian hasil bumi diberikan. Dalam hitungan detik, kerumunan bergerak mendekat.
Tangan-tangan terulur, berusaha meraih jagung, cabai, sayuran, buah-buahan, hingga tumpeng nasi kuning yang tersusun menjulang setinggi dua meter.
Pemandangan itu mungkin tampak seperti perlombaan memperebutkan hasil panen. Namun bagi masyarakat Desa Batuagung ini menyimpan makna yang jauh lebih dalam.
Di balik setiap hasil bumi dibawa pulang, tersimpan doa, harapan, dan keyakinan tentang keberkahan hidup.
Tradisi Grebeg Suro atau memasuki 1 Muharram 1448 hijriah telah berlangsung setiap tahun di mana masyarakat berkumpul untuk mengungkapkan rasa syukur atas limpahan rezeki yang diberikan Tuhan melalui alam.
Mereka juga mengenang jasa para leluhur yang telah meletakkan dasar kehidupan dan budaya desa, salah satunya adalah Patra Manggala, tokoh yang dihormati sebagai bagian dari sejarah Desa Batuagung.
Nama Patra Manggala tidak hanya hidup dalam cerita para sesepuh. Sosoknya hadir dalam ingatan kolektif masyarakat sebagai simbol kebijaksanaan dan penjaga nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Melalui penghormatan kepada leluhur inilah masyarakat menjaga hubungan dengan masa lalu sekaligus memperkuat identitas mereka di tengah perubahan zaman.
Di atas gunungan yang tersusun rapi, hasil bumi menjadi simbol hubungan erat antara manusia dan alam. Jagung, cabai, umbi-umbian, serta berbagai hasil perkebunan bukan sekadar komoditas pertanian.
Semuanya merupakan bukti kerja keras petani, kesuburan tanah, dan anugerah alam yang selama ini menopang kehidupan warga.
Pada Selasa (16/6/2026) Kepala Desa Batuagung, Bambang Purnomo, menegaskan bahwa pesan utama dari tradisi ini adalah rasa syukur dan semangat berbagi.
Hasil bumi yang diperoleh tidak boleh dinikmati sendiri. Rezeki harus dibagikan agar manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat.
Karena itulah, saat gunungan diperebutkan dan seluruh isinya habis terbagi, tidak ada yang merasa kehilangan. Sebaliknya, warga percaya bahwa semakin banyak yang berbagi, semakin besar pula keberkahan yang akan kembali kepada mereka.
Tradisi ini menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan dengan alam dan hubungan antar manusia mengandung pesan bahwa manusia bukan penguasa tunggal bumi, melainkan bagian dari ekosistem yang harus hidup berdampingan dengan lingkungan.
Bagi warga Batuagung, alam bukan sekadar tempat tinggal atau sumber penghasilan. Alam adalah sahabat yang harus dihormati dan dijaga keberlangsungannya.
Kesadaran itu tumbuh dari pengalaman panjang hidup berdampingan dengan sawah, kebun, hutan, dan sumber air yang menjadi penopang kehidupan sehari-hari.
Di tengah keramaian, tampak anak-anak mengikuti langkah orang tua mereka. Ada yang hanya menonton dari kejauhan, ada pula yang ikut berdesakan meraih hasil bumi.
Tanpa disadari, di situlah proses pewarisan budaya berlangsung. Mereka belajar bahwa gunungan bukan sekadar tumpukan sayuran dan buah-buahan, melainkan simbol gotong royong, rasa syukur, dan kepedulian terhadap sesama.
Ketika siang mulai turun dan isi gunungan telah habis terbagi, keramaian perlahan mereda. Namun nilai-nilai yang dibawa pulang warga jauh lebih berharga daripada hasil bumi yang mereka genggam.
Di dalam tradisi itu hidup pesan yang terus dijaga sejak masa Patra Manggala hingga hari ini: manusia akan selalu membutuhkan alam, dan persaudaraan akan menjadi kekuatan utama untuk menghadapi masa depan.
Grebeg Suro di Desa Batuagung Balapulang Tegal bukan sekadar perayaan tahunan. Ia adalah ruang perjumpaan antara sejarah, budaya, alam, dan harapan bagi warga masyarakat.
Sebuah pengingat bahwa di tengah arus modernisasi, harmoni dengan lingkungan dan kebersamaan antarmanusia tetap menjadi warisan paling berharga yang harus dijaga bersama. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

