Domba Batur Kini Menjadi Satwa Kesayangan Bernilai Ratusan Juta
Karakteristik fisik yang unik dan sifatnya yang jinak menjadi domba ini semakin disayang. Bahkan belakangan ini, domba ini kerap mengikuti kontes.
BANJARNEGARA – Domba Batur yang banyak dikembangkan di Dataran Tinggi Dieng (DTD) Kabupaten Banjarnegara kini semakin banyaknya diburu oleh pecinta domba karena unik dan memiliki nilai ekonomis tinggi.
Karakteristik fisik yang unik dan sifatnya yang jinak menjadi domba ini semakin disayang. Bahkan belakangan ini, domba ini kerap mengikuti kontes.
Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Tanaman Pangan Firman Sapta Adi menyampaikan, Domba Batur kini memiliki nilai jual fantastis.
Bahkan dalam ajang seperti Dieng Culture Festival (DCF), nilai ekonomis domba ini tidak lagi dinilai berdasarkan bentuk tubuh dan besarnya saja, melainkan berdasarkan estetika fisik dan keunggulan genetik.
"Perubahan fokus ini menciptakan tren baru di kalangan peternak lokal. Untuk mengejar gelar dalam kategori kelas ekstrem, sejumlah peternak bahkan sengaja tidak mengawinkan domba betina milik mereka, " kata Firman Sapta Ady, Senin (7/9/2026).
Hal ini dilakukan agar nutrisi pakan fokus pada pembentukan bobot tubuh secara maksimal tanpa terdistribusi untuk proses kehamilan.
"Secara ekonomi, nilai transaksi Domba Batur sebagai hewan kerasan tidak lagi memiliki patokan standar dinas, melainkan bergantung penuh pada kesepakatan antar penggemar, " lanjut Firman.
Harga Anakan Tinggi
Ia mengatakan saat ini harga anakan (Cempe) mampu mencapai Rp5.000.000 per ekor, jauh melampaui harga anakan domba lokal biasa yang berada di kisaran Rp300.000 hingga Rp500.000.
Sedangkan Harga Kelas Kontes Menembus puluhan juta hingga lebih dari Rp100.000.000 per ekor, dengan jangkauan pembeli lintas daerah seperti Boyolali, Jogja, hingga Medan.
Apabila kualitas kualifikasi genetisnya berada di kategori afkir (Kelas D), domba tersebut masih memiliki nilai jual komersial berbasis harga daging pasar untuk olahan kuliner seperti sate atau kambing guling.
Di luar aspek kontes dan daya tarik visual, bulu Domba Batur yang tebal dan halus menyimpan potensi besar untuk kebutuhan industri tekstil tekstur wool.
"Pada gelaran acara daerah, olahan kerajinan tangan berbahan dasar bulu domba seperti gantungan kunci dan suvenir mencatatkan perputaran omzet mencapai puluhan juta rupiah," imbuhnya.
Kendati demikian, hilirisasi bulu domba menuju skala industri tekstil nasional masih menghadapi kendala ketersediaan bahan baku.
Untuk diketahui, populasi Domba Batur saat ini baru dikisaran 9.000 hingga 10.000 ekor. Sementara target afisiensi mesin wool Membutuhkan populasi sekitar 30.000 hingga 50.000 ekor agar kapasitas operasi pengolahan bulu berjalan efisien.
Untuk mengejar target populasi serta menjaga kestabilan genetik, dinas teknis terkait mulai meluaskan zona pembiakan ke luar Dataran Tinggi Batur.
Mengingat Kecamatan Batur memiliki keterbatasan kapasitas pakan dan tenaga kerja, penyebaran bibit mulai diarahkan ke kawasan bersuhu dingin lainnya di Banjarnegara, seperti Pejawaran, Pagentan, Wanayasa, Kalibening, dan Karangkobar.
Upaya perluasan wilayah ini diharapkan dapat menahan laju keluarnya genetik kualitas unggul (Kelas A dan B) ke luar daerah, sekaligus mempercepat pertumbuhan populasi Domba Batur menuju kemandirian industri berbasis ternak dan kerajinan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

