https://jateng.times.co.id/
Berita

Jaga Titipan untuk Anak Cucu, Masyarakat Adat Reksa Wana Guci Satukan Ibadah dan Konservasi

Minggu, 11 Januari 2026 - 01:11
Jaga Titipan untuk Anak Cucu, Masyarakat Adat Reksa Wana Guci di Tegal Satukan Ibadah dan Konservasi Sobirin atau kerap disapa Mbah Birin tokoh Masyarakat Adat Reksa Wana Guci Tegal (FOTO: Cahyo Nugroho For TIMES Indonesia )

TIMES JATENG, TEGAL – Di kawasan lereng Gunung Slamet, tepatnya di wilayah Desa Guci, Kabupaten Tegal, sekelompok warga menjalankan aksi konservasi hutan yang berangkat dari tradisi leluhur. Bagi mereka, ritual adat dan kerja pelestarian alam adalah dua hal yang tak terpisahkan.

Kelompok yang menamai diri Masyarakat Adat Reksa Wana Guci ini berperan sebagai pelindung hutan, menggabungkan kearifan lokal dengan aksi nyata di bawah bimbingan tokoh masyarakat setempat, seperti Mbah Birin (Sobirin). Pusat kegiatan mereka berlangsung di Base Camp Tatamba Jeep, dengan fokus menjaga kawasan lereng Gunung Slamet yang berfungsi sebagai penyangga ekosistem, daerah resapan air, dan ruang hidup masyarakat.

Bagi komunitas ini, hutan memiliki makna yang jauh lebih dalam. “Hutan itu bukan barang yang boleh bebas diperjualbelikan. Tapi Hutan adalah titipan untuk anak cucu,” tegas Mbah Birin, menegaskan bahwa hutan adalah pusaka yang harus dijaga.

Setiap kegiatan adat, baik ruwatan, selamatan, maupun pertemuan, selalu ditutup dengan tindakan konkret: menanam pohon. Tradisi ini bukan sekadar simbol. Pohon-pohon yang ditanam menjadi penanda peristiwa dan wujud ikrar untuk menjaga keseimbangan alam. Jenis yang dipilih adalah tumbuhan lokal dan endemik seperti puspa, beringin, bambu, aren, dan buah-buahan hutan, yang berfungsi memperkuat tanah dan menjaga ketersediaan air.

“Setiap acara sakral seperti Ruwat Bumi ini harus ada pohon yang ditanam. Kalau tidak menanam, Ya berarti tidak ada tanggung jawabnya,” ujar Mbah Birin. Menanam, baginya, adalah janji yang harus diikuti dengan perawatan jangka panjang.

Kawasan lereng Gunung Slamet memiliki peran ekologis krusial. Daerah ini rentan terhadap bencana longsor jika tutupan hutan berkurang. Di tengah tekanan dari aktivitas pariwisata dan pembukaan lahan, Reksa Wana Guci hadir sebagai benteng sosial berbasis adat. “Kalau pohon hilang, yang lebih dulu hilang adalah airnya. Dan yang paling terdampak adalah masyarakat di sini,” jelas Mbah Birin tentang alasan mereka memfokuskan perlindungan mata air.

Yang membedakan komunitas ini adalah keterlibatan lintas generasi. Anak-anak dan pemuda dilibatkan langsung, tidak hanya dalam menanam, tetapi juga mendengarkan cerita tentang makna hutan dan hubungan manusia dengan alam. “Anak-anak harus paham sejak kecil bahwa hutan itu hidup. Bukan sekadar tempat mencari uang,” kata Mbah Birin.

Mereka juga menegaskan prinsip non-eksploitatif, menolak memanfaatkan hutan untuk keuntungan ekonomi jangka pendek. Setiap pohon yang ditanam dicatat dan dirawat sebagai bentuk tanggung jawab kolektif. “Menanam itu mudah. Yang sulit adalah merawat. Tetapi merawat itulah yang menjadi nilai ibadahnya,” ungkap Mbah Birin pada Sabtu (10/1/2026).

Di tengah berbagai pendekatan konservasi yang sering bersifat top-down, praktik berbasis adat seperti ini menunjukkan model alternatif. Tanpa mengejar target angka besar, mereka mengandalkan konsistensi sosial dan ikatan budaya. Di lereng Slamet, ratusan pohon telah tumbuh dari ritual-ritual tersebut, akarnya menahan tanah, daunnya menjaga air.

Bagi Masyarakat Adat Reksa Wana Guci, menjaga hutan adalah tanggung jawab adat dan moral. “Hidup manusia itu singkat. Yang harus tetap ada adalah hutan dan air. Kalau itu rusak, semuanya akan berakhir,” pungkas Mbah Birin, yang juga menjabat sebagai Ketua Masyarakat Adat Reksa Wana Guci Tegal.

 

Pewarta : Cahyo Nugroho
Editor : Faizal R Arief
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jateng just now

Welcome to TIMES Jateng

TIMES Jateng is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.