TIMES JATENG, PEMALANG – Kekayaan budaya Indonesia tidak hanya terpancar pada seni tari, musik, atau busana, tetapi juga pada tradisi lisan yang mengakar, seperti budaya mendongeng. Seni bertutur ini sarat dengan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan lintas generasi, menjadikannya salah satu penjaga jati diri bangsa.
Muhtamam Hasani, Ketua Kampung Dongeng Kabupaten Pemalang yang akrab disapa Kak Amam, menegaskan pentingnya dongeng sebagai media komunikasi dan penanaman nilai bagi anak.
"Dengan mendongeng anak tidak merasa digurui, tidak merasa disuruh-suruh, tapi dengan kesadaran sendiri mereka akan mengerti dan melakukan hal-hal baik yang dipesankan dalam dongeng," ujarnya pada Senin (12/1/2026).

Menurutnya, mendongeng sejak dini sangat bermanfaat untuk perkembangan daya pikir dan imajinasi anak. Sayangnya, animo positif anak-anak ini kurang diimbangi dengan dukungan maksimal dari pemerintah daerah.
"Sangat antusias, meraka sangat suka, buktinya mereka mengikutinya sampai selesai dan ingin lagi didongengin kembali," ucap Kak Amam.
Namun sayang pihak Pemerintah lewat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kurang maksimal dalam melestarikan budaya asli Nusantara tersebut tambah Kak Amam yang juga mantan anggota DPRD Pemalang ini. Ia menyayangkan bahwa pelatihan mendongeng yang pernah diadakan untuk guru tidak memiliki tindak lanjut yang berkesinambungan.
Di sisi lain, minat membaca dan mendengarkan dongeng di kalangan anak-anak generasi milenial mulai memudar. Banyak orang tua yang menggantikan momen bercerita dengan memberikan gawai (handphone) kepada anak sejak dini. Padahal, peran orang tua sebagai pendidik pertama di rumah sangat krusial.

Dongeng, sebagai cerita fiktif yang mengandung pesan moral, memiliki berbagai jenis, seperti:
-
Fabel: cerita dengan tokoh hewan/tumbuhan berperilaku seperti manusia.
-
Cerita Jenaka: kisah lucu yang menghibur.
-
Legenda: cerita asal-usul suatu tempat.
-
Mitos: kisah berdasarkan kepercayaan masyarakat.
-
Sage: cerita berlatar sejarah yang bercampur fantasi rakyat.
-
Parabel: cerita dengan unsur pendidikan dan keagamaan.
Kebiasaan memberikan gawai pada anak usia dini dapat membawa dampak negatif, seperti menghambat perkembangan otak, membuat anak menjadi tertutup, kurang mampu beradaptasi, hingga memicu perilaku meniru kekerasan dan memudarkan kreativitas.
Sebaliknya, mendongeng justru melatih anak untuk berpikir, membayangkan alur cerita, dan mengembangkan imajinasinya. Oleh karena itu, menghidupkan kembali tradisi mendongeng memerlukan sinergi dan komitmen nyata, baik dari orang tua di rumah maupun dukungan pemerintah melalui program yang berkelanjutan (*)
| Pewarta | : Ragil Surono |
| Editor | : Faizal R Arief |