Jaringan Kabel Menghadang, Wajah Slawi dalam Wacana Kabel Bawah Tanah
Suasana di salah satu wilayah di Kabupaten Tegal (Foto: Cahyo Nugroho/TIMES Indonesia)

Jaringan Kabel Menghadang, Wajah Slawi dalam Wacana Kabel Bawah Tanah

Persoalan tiang dan kabel di Kota Slawi juga menjadi pembicaraan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tegal, khususnya ketika melihat wajah Kota Slawi yang terus berkembang.

TIMES Jateng,Senin 7 September 2026, 18:58 WIB
57
C
Cahyo Nugroho

TEGALTIMES INDONESIA, TEGAL - Aspal baru perlahan membentang di ruas Jalan Yamansari–Bojong, Kabupaten Tegal. Pekerjaan perbaikan jalan yang kini telah mencapai sekitar 80 persen itu menjadi kabar baik bagi pengguna jalan.

Di sepanjang jalur tersebut, tiang-tiang jaringan internet dan telekomunikasi berdiri di ruang milik jalan. Infrastruktur selama ini menjadi bagian penting kehidupan masyarakat itu justru menjadi salah satu kendala bagi pekerja di lapangan.

Saat ditemui TIMES Indonesia, Kepala Bidang Jalan dan Jembatan DPU Kabupaten Tegal, Waedi, mengakui keberadaan tiang kabel internet membuat pekerjaan tidak bisa dilakukan secara leluasa.

“Kendala yang kami hadapi dalam perbaikan jalan itu hanya tiang-tiang kabel internet, sehingga agak memperlambat pekerjaan,” ujar Waedi dari ruang kerjanya.

Pekerja harus ekstra hati-hati agar proses pembangunan tidak mengganggu tiang maupun jaringan yang masih digunakan masyarakat.

Persoalan ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur memiliki tantangan yang lebih kompleks daripada sekadar memperbaiki kondisi jalan.

Di satu sisi, masyarakat membutuhkan jalan yang aman dan nyaman. Di sisi lain, kebutuhan terhadap jaringan internet juga terus meningkat. Rumah, tempat usaha hingga fasilitas umum kini semakin bergantung pada konektivitas digital.

Persoalannya kemudian bukan pada keberadaan jaringan telekomunikasi, melainkan bagaimana infrastruktur tersebut ditempatkan dan ditata agar tidak saling berbenturan dengan pembangunan lainnya.

Persoalan tiang dan kabel di Kota Slawi juga menjadi pembicaraan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tegal, khususnya ketika melihat wajah Kota Slawi yang terus berkembang.

Salah satu gagasan yang muncul dan menarik untuk jangka panjang adalah memindahkan jaringan kabel dari udara ke bawah tanah.

Kabel tanam dinilai dapat membuat kawasan perkotaan terlihat lebih rapi. Tidak ada lagi kabel yang bersilang-silang di udara atau tiang yang berdiri di berbagai titik ruang jalan.

Gagasan dan wacana yang muncul tersebut juga menjadi refleksi setelah berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat digelar di Slawi.

“Sejatinya bila saja pemerintah mau menata kabel agar tidak simpang siur dengan kabel tanam di bawah tanah, maka akan lebih rapi. 

Saat carnival beberapa minggu lalu, ini bisa menjadi pembelajaran di masa mendatang bila diadakan kegiatan yang serupa,” ujar salah seorang pejabat di lingkungan Pemkab Tegal.

Kepada TIMES Indonesia, ia juga menyampaikan  kegiatan besar yang melibatkan masyarakat dapat menjadi momentum untuk melihat kembali bagaimana tata kota dan infrastruktur pendukungnya ditata.

Hal senada disampaikan pejabat lainnya yang  menilai Kota Slawi masih memiliki peluang untuk melakukan penataan jaringan kabel menjadi kabel  bawah tanah secara bertahap.

“Kalau Kota Slawi itu sejatinya masih bisa ditata, tetapi itu semua butuh proses dan butuh kerja sama semua pihak untuk menjadikan Kota Slawi lebih indah,” terangnya.

Menurutnya memindahkan kabel dari udara ke bawah tanah tentu bukan perkara mudah. Pemerintah daerah harus berkoordinasi dengan berbagai pemilik jaringan telekomunikasi. 

Selain itu, diperlukan perencanaan teknis, pembiayaan, hingga penentuan jalur utilitas yang tidak mengganggu jaringan lain.

Tetapi jika dilakukan sejak awal dan direncanakan secara terpadu, penataan utilitas bisa menjadi bagian dari wajah baru Kota Slawi.

Sebab, pembangunan kota tidak hanya berbicara mengenai jalan mulus atau gedung yang berdiri. Ada detail-detail kecil yang ikut menentukan wajah sebuah kota.

Tiang, kabel, trotoar, drainase dan berbagai jaringan utilitas merupakan bagian dari ruang publik yang setiap hari dilihat dan digunakan masyarakat.

Perbaikan Jalan Yamansari–Bojong dan kegiatan Carnival akhirnya menjadi gambaran kecil dari persoalan yang lebih besar.

Ketika jalan dibangun, keberadaan tiang kabel ikut diperhitungkan. Ketika kota ingin dibuat lebih indah, jaringan kabel kembali menjadi bagian yang harus ditata.

Barangkali, tantangannya bukan memilih antara jalan atau jaringan internet. Yang dibutuhkan adalah bagaimana keduanya dapat berjalan beriringan dalam sebuah perencanaan kota yang lebih tertata.

Dan bagi Kota  Slawi, gagasan kabel bawah tanah mungkin belum bisa diwujudkan dalam waktu singkat. Tetapi setidaknya, wacana tersebut telah membuka satu pertanyaan penting: seperti apa wajah Kota Slawi yang ingin diwariskan untuk masa depan?

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Cahyo Nugroho
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jateng, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.