Dugaan Perundungan Siswa SMPN 1 Blora Berujung ke Polisi, Ini Penjelasan Kepala Sekolah
ILUSTRASI: Perundungan dialami siswa SMPN 1 Blora

Dugaan Perundungan Siswa SMPN 1 Blora Berujung ke Polisi, Ini Penjelasan Kepala Sekolah

Dari informasi yang dihimpun pihak sekolah, terdapat empat siswa yang diduga sebagai pelaku utama. Selain itu, beberapa siswa lain juga disebut ikut terlibat dalam kejadian tersebut.

TIMES Jateng,Kamis 13 Agustus 2026, 15:36 WIB
728
A
Ahmad Rengga Wahana Putra [MG-301]

BLORADugaan perundungan terhadap seorang siswa SMPN 1 Blora kini masuk ke ranah kepolisian. Pihak keluarga korban memilih melaporkan kejadian tersebut ke Polres Blora setelah upaya mediasi yang difasilitasi sekolah tidak berjalan sesuai rencana.

Kepala SMPN 1 Blora, Ainur Rofiq, membenarkan adanya dugaan perundungan yang melibatkan sejumlah siswa.

Dari informasi yang dihimpun pihak sekolah, terdapat empat siswa yang diduga sebagai pelaku utama. Selain itu, beberapa siswa lain juga disebut ikut terlibat dalam kejadian tersebut.

Rofiq menjelaskan, pihak sekolah pertama kali menangani korban setelah kejadian berlangsung pada hari Sabtu. Namun, penanganan saat itu belum dapat dilakukan secara maksimal karena sekolah tengah menggelar rapat komite.

“Pada hari Sabtu kita juga belum bisa berbuat apa-apa karena saat itu ada rapat komite. Jadi pihak sekolah hanya mengantarkan korban ke RS DKT,” ujar Rofiq dalam wawancara, Rabu (13/8/2026).

Sekolah kemudian mulai melakukan pendalaman pada hari Senin. Sejumlah siswa dikumpulkan untuk dimintai keterangan, sementara guru Bimbingan Konseling (BK) melakukan konfirmasi awal guna mengetahui rangkaian kejadian.

Menurut Rofiq, sekolah sempat mengambil langkah mediasi lantaran masih terdapat sejumlah informasi yang perlu dipastikan dari berbagai pihak.

Orang tua korban dan orang tua siswa yang diduga terlibat kemudian diundang ke sekolah pada Selasa pukul 09.00 WIB.

Namun, hingga satu jam berlalu, orang tua yang diundang belum hadir. Setelah pihak sekolah melakukan komunikasi, diketahui bahwa keluarga korban memilih membawa persoalan tersebut ke jalur hukum.

“Setelah melaporkan ke Polres, saya sampaikan kepada anak-anak dan orang tua yang terlibat. Si korban memilih melaporkan ke Polres,” katanya.

Setelah mengetahui adanya laporan ke Polres Blora, Rofiq bersama guru BK mendatangi rumah korban pada Selasa. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan informasi mengenai kejadian yang sebelumnya diterima sekolah.

“Tujuan kita berkunjung ke tempat korban untuk mengonfirmasi kejadian tersebut karena masih sepihak,” jelasnya.

Rofiq menyebut empat siswa diduga menjadi pelaku utama dalam kejadian tersebut. Sementara beberapa siswa lainnya disebut ikut terlibat, tetapi tidak masuk dalam kategori pelaku utama. Seluruh siswa yang diduga terlibat diketahui merupakan siswa kelas IX.

Ia juga membenarkan adanya informasi bahwa salah satu siswa yang diduga terlibat merupakan anak anggota DPRD Blora berinisial PR.

Mengenai awal mula kejadian, pihak sekolah memperoleh keterangan bahwa persoalan tersebut bermula dari aksi korban yang memasang jebakan air di pintu. Aksi tersebut kemudian membuat sejumlah siswa basah.

“Korban memasang jebakan air di pintu sehingga membuat para pelaku mendapati basah karena ulah si korban. Dan korban juga menjadi korban dari hal itu, namun tidak mengetahui siapa yang memasang jebakan si korban itu,” ungkapnya.

Hingga Kamis (13/8/2026), korban belum kembali mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Sementara siswa yang diduga terlibat masih menjalani kegiatan pembelajaran seperti biasa.

Pihak sekolah juga belum menentukan sanksi terhadap siswa yang diduga terlibat. Menurut Rofiq, keputusan terkait langkah selanjutnya perlu mempertimbangkan proses hukum yang telah berjalan setelah kasus tersebut dilaporkan ke Polres Blora.

“Untuk terkait sanksi kita belum tahu karena ini tembusannya Polres. Kalau dulu kan mediasi,” ujarnya.

Rofiq mengakui sekolah selama ini telah berupaya melakukan pengawasan terhadap aktivitas siswa.

Namun, kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi, terutama karena berlangsung pada waktu istirahat yang dinilai memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi.

“Walaupun dulu sekolahan sudah dalam pengawasan ketat, tapi saat ini masih kecolongan karena waktu yang rawan itu waktu istirahat murid,” katanya.

Sebagai tindak lanjut, sekolah kini menambah pengawasan di sejumlah titik yang dinilai rawan selama jam istirahat. Selain menempatkan petugas, pihak sekolah juga berencana menambah kamera pengawas atau CCTV di lingkungan sekolah.

“Saya akan perbanyak lagi untuk CCTV, kemudian tempat-tempat yang rawan itu ada petugas yang menjaga,” pungkas Rofiq. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Ahmad Rengga Wahana Putra [MG-301]
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jawa Tengah, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.