Hari Kartini, 50 Pendaki Perempuan Taklukkan Puncak Gunung Kembang
Kegiatan mendaki bersama di Gunung Kembang, Wonosobo dalam rangka memperingati Hari Kartini. (FOTO: Miranda/TIMES Indonesia)

Hari Kartini, 50 Pendaki Perempuan Taklukkan Puncak Gunung Kembang

Peringati Hari Kartini, 50 pendaki perempuan lakukan petualangan dalam Women in Adventure (WIA) 5 di Gunung Kembang.

TIMES Jateng,Selasa 21 April 2026, 22:39 WIB
543
M
Miranda Lailatul Fitria

WonosoboPeringatan Hari Kartini kini tidak lagi sekadar berbicara tentang emansipasi di ruang domestik atau profesional. Semangat Kartini kini merambah jalur pendakian, hutan, hingga medan ekstrem—wilayah yang selama ini identik dengan dunia laki-laki. Perempuan masa kini semakin berani membuktikan kapasitas mereka dalam menaklukkan tantangan alam.

Semangat tersebut digaungkan melalui kampanye Women in Adventure (WIA) 5 yang diinisiasi oleh brand perlengkapan outdoor, Arei Outdoor Gear. Kegiatan pendakian bersama 50 perempuan dari berbagai penjuru daerah ini digelar di Gunung Kembang, Wonosobo, Sabtu (18/4/2026).

Marketing Communication Arei Outdoor Gear, Nashirudin, menjelaskan bahwa WIA 5 hadir untuk mendobrak stigma lama yang melekat pada perempuan dalam dunia petualangan.

Campaign ini menyuarakan bahwa perempuan juga bisa berpetualang seperti laki-laki. Dari sisi persiapan hingga manajemen perjalanan, semuanya setara. Hanya saja konsepnya dikemas lebih girly,” ujar Nashirudin.

article

Kesiapan sebagai Kunci Keamanan

Menurut Nashirudin, kunci utama dalam beraktivitas di alam bebas bukan terletak pada gender, melainkan pada kesiapan teknis dan mental. Ia menegaskan bahwa aktivitas ekstrem tetap dapat dilakukan dengan aman selama dipersiapkan dengan matang.

“Segala sesuatu jika sudah dipersiapkan dengan baik, pasti aman. Gender bukan batasan,” tambahnya.

Fenomena meningkatnya minat perempuan dalam kegiatan luar ruang menjadi bukti runtuhnya stigma lama. Kini, perempuan bukan sekadar penonton, melainkan pelaku utama dalam aktivitas yang menantang fisik dan mental.

Momentum Hari Kartini pun menjadi refleksi bahwa perjuangan perempuan terus berkembang mengikuti zaman. Jika dahulu Kartini memperjuangkan akses pendidikan, kini perempuan melanjutkannya dengan keberanian hadir di ruang-ruang yang sebelumnya dianggap tabu.

Mendobrak Paradigma Lemah-Kuat

Nashirudin mengakui tidak mudah bagi perempuan untuk menjalankan peran ganda, mulai dari urusan pribadi, keluarga, hingga karier. Namun, ia mengajak perempuan untuk tetap kuat dan membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Ia juga menentang paradigma tradisional yang melabeli perempuan sebagai sosok yang lemah. Menurutnya, kekuatan dan kelemahan adalah sifat manusiawi yang dimiliki setiap individu tanpa memandang gender.

“Selama ini sering dibilang laki-laki itu kuat dan perempuan lemah. Sekarang kita balik paradigmanya; perempuan harus tetap kuat, dan laki-laki pun boleh menunjukkan sisi lemahnya,” tegas Nashirudin. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Miranda Lailatul Fitria
|
Editor:Deasy Mayasari

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jawa Tengah, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.