TIMES JATENG, YOGYAKARTA – Pagi hingga siang ia duduk di bangku perkuliahan, sore sampai malam ia melaju di jalanan Kota Yogyakarta mengantar pesanan. Itulah keseharian Ryaas Amin, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), yang memilih menjalani kuliah sambil bekerja sebagai pengemudi ojek online dan layanan pesan-antar makanan.
Pilihan tersebut diambil Ryaas bukan tanpa alasan. Ia ingin memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pendidikan dengan usahanya sendiri, tanpa bergantung sepenuhnya pada orang tua. Keinginan untuk hidup mandiri itulah yang mendorongnya pertama kali mendaftar sebagai pengemudi ojek daring.
Seiring waktu, Ryaas tak hanya menerima penumpang, tetapi juga melayani pesan-antar makanan. Fleksibilitas waktu menjadi pertimbangan utama yang membuatnya bertahan di pekerjaan ini. Pada awalnya, ia menggunakan sepeda motor milik kakaknya untuk bekerja. Kini, kendaraan dari sang paman menjadi alat transportasi utama yang membantunya mencari penghasilan.
Kerja keras tersebut membuahkan hasil. Ryaas mampu membiayai pendidikannya secara mandiri. Namun, menjalani dua peran sekaligus bukan perkara mudah. Ia harus cermat mengatur waktu agar perkuliahan tetap berjalan lancar.
“Manajemen waktu itu sudah aku pikirkan sejak awal, terutama saat KRS. Jadi waktu memilih mata kuliah, aku juga memperhitungkan jumlah SKS supaya bisa menyesuaikan dengan jadwal kerja,” kata Ryaas, Rabu (4/2/2026).
Menurutnya, pekerjaan di sektor layanan online relatif fleksibel dan bisa disesuaikan dengan jadwal kuliah. Meski demikian, keputusan untuk menekuni pekerjaan tersebut tetap melalui pertimbangan matang.
“Kalau ditekuni, penghasilannya cukup membantu. Tapi tetap harus pintar mengatur tenaga dan waktu, supaya tidak keteteran,” ujarnya.
Bagi Ryaas, mimpi dan keinginan tidak cukup hanya dipikirkan, tetapi harus diupayakan. Ia belajar mengatur ritme antara bekerja dan beristirahat, menyesuaikan target penghasilan tanpa mengorbankan kesehatan maupun akademik.
“Penghasilan itu bisa diatur. Ada waktunya kerja, ada waktunya istirahat. Kalau punya keinginan, ya harus benar-benar diusahakan,” tuturnya.
Keinginannya untuk mandiri juga dilandasi tekad agar tidak terus-menerus membebani orang tua. Ia ingin setiap keputusan yang diambil merupakan tanggung jawab pribadinya.
“Aku ingin mewujudkan sesuatu dari usahaku sendiri. Jadi kalau hasilnya belum sesuai harapan, aku enggak merasa merugikan orang tua,” ungkapnya.
Pengalaman kuliah sambil bekerja membentuk Ryaas menjadi pribadi yang lebih tangguh. Ia mengaku terbiasa menghadapi tekanan, mengatur prioritas, hingga menyelesaikan persoalan dengan pelanggan. Dukungan orang tua pun menjadi penguat langkahnya.
“Orang tua mendukung, meski tidak secara langsung. Yang penting kuliah dan kerja tetap seimbang,” katanya.
Ryaas meyakini, proses yang ia jalani saat ini akan menjadi bekal berharga setelah lulus nanti. “Aku belajar multitasking, mengatur prioritas, dan menghadapi konflik. Semua itu pasti berguna di dunia kerja ke depan,” paparnya, (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Kuliah Sembari Jadi Ojol, Ryaas Amin Buktikan Mahasiswa Bisa Mandiri Sejak Dini
| Pewarta | : A. Tulung |
| Editor | : Ronny Wicaksono |