TIMES JATENG, MAGELANG – Warga Desa Tuksongo, Borobudur, kini harus rela mengucapkan selamat tinggal pada salah satu ikon desanya. Pohon berjuluk Randu Alas Tuksongo raksasa yang telah berdiri kokoh selama berabad-abad ini, ditebang pada Senin (2/2/2026).
Keputusan pahit ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan berdasarkan hasil kajian teknis mendalam dari tim ahli Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Dalam laporan resminya, tim ahli UGM menyatakan bahwa pohon tersebut telah mengalami kematian biologis.
Hasil penelitian menunjukkan adanya serangan masif hama penggerek batang (Batocera hector) yang merusak jaringan pengangkut nutrisi di dalam batang. Kondisi ini diperparah dengan infeksi patogen yang menyebabkan pengeroposan bagian dalam kayu secara permanen.
Proses penambangan Randu Alas, dimulai dari bagian -bagian yang rapuh/ mati. (FOTO: Hermanto/ TIMES Indonesia)
Tim ahli UGM menyatakan bahwa secara teknis, pohon ini sudah masuk kategori risiko ekstrem. Jika tidak segera ditangani, potensi tumbang sangat tinggi dan bisa membahayakan keselamatan warga serta bangunan di sekitarnya.
Meski demikian, demi menghormati nilai sejarahnya, penebangan tidak akan dilakukan hingga rata dengan tanah. Pemerintah desa sepakat menyisakan batang bawah setinggi sekitar 4–5 meter untuk dijadikan fosil hidup atau monumen, agar ingatan kolektif warga terhadap sang "penjaga" desa ini tetap terjaga.
Mengenal Randu Alas, Si Raksasa yang Kaya Manfaat
Pohon yang memiliki nama latin Bombax ceiba ini bukanlah pohon sembarangan dalam kebudayaan masyarakat Jawa. Randu Alas sering juga disebut sebagai Kapuk Hutan atau Red Silk Cotton Tree.
Pohon ini berasal dari wilayah tropis Asia Selatan hingga Asia Tenggara. Di habitat aslinya, Randu Alas dikenal sebagai pohon "megah" karena mampu tumbuh menjulang hingga 30-40 meter dengan diameter batang yang bisa mencapai ukuran beberapa pelukan orang dewasa.
Fakta menarik Pohon Randu Alas
Usia Hidup yang panjang, Randu Alas merupakan salah satu pohon yang memiliki usia panjang (long-lived species). Seperti yang ada di Tuksongo, pohon ini diperkirakan telah berusia 250 hingga 300 tahun, saksi bisu yang mungkin telah ada sejak zaman pembangunan kembali Candi Borobudur oleh Raffles.
Ciri khas utamanya adalah batang yang berduri tajam saat masih muda dan bunga berwarna merah menyala yang mekar saat musim kemarau, ketika daun-daunnya meranggas.
Kayunya yang ringan sering digunakan untuk bahan pembuatan korek api atau peti kemas. Namun, manfaat terbesarnya adalah sebagai penyimpan cadangan air tanah yang sangat baik dan tempat bersarangnya berbagai jenis burung predator.
Sisi Mitologi
Bagi masyarakat lokal, pohon besar seperti Randu Alas sering dianggap memiliki nilai "wingit" atau keramat. Hal ini sebenarnya merupakan bentuk kearifan lokal untuk menjaga agar pohon-pohon raksasa tidak ditebang sembarangan, sehingga ekosistem lingkungan tetap terjaga.
Sebelum ditebang, terpampang banner peringatan agar tidak berada di lokasi pohon yang dianggap sudah rapuh dan mati. (FOTO: Hermanto/ TIMES Indonesia)
Penebangan Randu Alas Tuksongo memang menjadi 'prahara' besar bagi lanskap wisata Borobudur. Namun, keselamatan publik dan keberlanjutan lingkungan menjadi prioritas utama.
Fosil yang tersisa nantinya diharapkan menjadi pengingat bahwa alam pun memiliki batas usia, namun kenangan atas pengabdian sang pohon kepada desa akan tetap abadi. (*)
| Pewarta | : Hermanto |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |