TIMES JATENG, REMBANG – Ratusan nelayan jaring bobo di Desa Kabongan Lor, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, memilih untuk tetap berangkat melaut meskipun kondisi cuaca saat ini sedang memburuk. Langkah berisiko ini tetap diambil demi menyambung hidup di tengah kondisi alam yang tidak menentu.
Salah seorang nelayan jaring bobo, Yanto, menuturkan bahwa dalam sepekan terakhir hasil tangkapan ikan yang diperoleh sangat minim. Menurutnya, pendapatan yang didapat seringkali tidak sebanding dengan tingginya biaya operasional yang harus dikeluarkan setiap kali berangkat.
Pria yang telah menekuni profesi sebagai nelayan selama 40 tahun ini menjelaskan bahwa angin barat menjadi kendala utama. "Kalau angin barat, peluang hasil tangkapan kecil, sementara biaya operasional cukup tinggi," ujar Yanto saat ditemui TIMES Indonesia, pada Rabu (31/12/2025).

Kondisi arus yang kencang dalam seminggu terakhir juga membuat titik lokasi penangkapan ikan sulit untuk diprediksi. Hal ini menyebabkan sebagian nelayan memutuskan untuk menghentikan aktivitas melaut sementara waktu. Berdasarkan pantauan di lapangan, terlihat puluhan kapal nelayan bersandar dan berlabuh di bibir pantai Desa Kabongan Lor.
Yanto membeberkan bahwa saat cuaca buruk, untuk mengantongi uang sebesar Rp 100 ribu saja terasa sangat sulit. Ia merincikan bahwa biaya operasional sekali melaut mencapai Rp 300 ribu. Jika hanya mendapatkan 2 kilogram rajungan dengan harga jual Rp 100 ribu per kilogram, maka pendapatan yang diperoleh hanya Rp 200 ribu, yang berarti nelayan harus menanggung kerugian.
Kondisi ini semakin diperparah dengan pembagian hasil untuk dua orang anak buah kapal (ABK) atau pandega. Jika tangkapan sedikit, setiap ABK setidaknya tetap harus dibayar Rp 50 ribu per orang. "Kalau dihitung-hitung hasilnya kita minus (rugi), Pak," keluhnya.
Aktivitas berat ini dimulai sejak dini hari, di mana para nelayan berangkat memasang umpan pada pukul 02.00 WIB. Setelah menempuh perjalanan selama satu jam ke lokasi penangkapan, umpan mulai ditarik pada pukul 03.30 WIB, dan mereka baru kembali bersandar ke daratan sekitar pukul 09.00 WIB pagi. (*)
| Pewarta | : Ezra Vandika |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |