TIMES JATENG, TEGAL – Awal tahun 2026 menjadi saksi bahwa pesona wisata Guci tetap terjaga. Meski sempat diterpa banjir, daya tariknya tak luntur. Sumber Air panas tetap menghangatkan tubuh dan alamnya tetap memikat mata, ditambah lagi kini pelayanannya yang kian modern seakan menyatukan keindahan alam dengan kemajuan teknologi.
Di awal Tahun Baru 2026, kawasan wisata Guci kembali hidup dipenuhi langkah kaki, tawa anak-anak, dan cerita liburan yang berkelindan di antara kabut tipis pegunungan.
Bagi banyak keluarga, Guci bukan sekadar tempat wisata. Ia adalah ruang jeda, tempat melepas penat setelah satu tahun penuh rutinitas.
Ada yang datang sejak subuh, ada pula yang rela menempuh perjalanan jauh demi merasakan kembali sensasi berendam di air panas alami. Suasana hangat itu terasa semakin bermakna karena Guci sempat berada di titik yang mengkhawatirkan.
Beberapa waktu sebelumnya, kawasan Pancuran 13 Guci terdampak banjir. Air bercampur lumpur mengalir deras, meninggalkan bekas di sejumlah titik.
Kekhawatiran menyelimuti warga sekitar dan para pelaku wisata. Banyak yang bertanya-tanya, apakah bencana ini akan memadamkan denyut pariwisata Guci?
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Di balik sisa lumpur dan kerusakan, tumbuh semangat gotong royong. Pemerintah daerah, pengelola wisata, dan masyarakat sekitar bahu-membahu membersihkan kawasan.
Tanpa banyak kata, mereka pengunjung bekerja menyapu, mengangkat material, memperbaiki fasilitas agar Guci kembali menerima tamu dengan layak.
Kerja itu tidak sia-sia. Saat kalender mulai berganti tahun, Wisata Guci berdiri tegak menyambut wisatawan dari berbagai arah penjuru
Pada 1 Januari 2026, lebih dari 4.000 orang tercatat berkunjung. Angka itu bukan saja sekadar statistik tapi penanda kepercayaan bahwa Wisata Guci masih dicintai, masih dirindukan.
“Pengunjung pada 1 Januari mencapai lebih dari 4.000 orang lebih dan kondisi Ini menunjukkan bahwa Kawasan Wisata Guci tetap memiliki daya tarik yang kuat,” ujar Kepala UPTD Wisata Guci, Satriyo Pribadi.
Di tepi kolam wajah-wajah lelah berubah menjadi senyum. Di Guci, waktu seolah melambat memberi ruang orang-orang untuk benar-benar hadir bersama.
Awal tahun ini juga membawa perubahan kecil yang terasa besar. Untuk pertama kalinya, tiket masuk Wisata Guci resmi menggunakan sistem pembayaran non-tunai melalui QRIS.
Di pintu masuk, ponsel-ponsel terangkat, kode dipindai, transaksi selesai dalam hitungan detik dan mampu mengurai kepadatan di gerbang pintu masuk.
Sekitar 50 persen pengunjung memilih metode ini. Bagi sebagian orang, ini bukan sekadar kemudahan teknologi, tetapi tanda bahwa Guci ikut melangkah ke masa depan tanpa meninggalkan jati dirinya.
Di tengah alam yang alami, modernitas hadir dengan cara yang sederhana dan tidak mengganggu.
Digitalisasi pembayaran juga memberi rasa aman dan tertib. Antrean lebih cepat, transaksi lebih rapi, dan pengelolaan menjadi lebih transparan. Bagi pengelola dan masyarakat sekitar, ini adalah bagian dari upaya menjaga keberlanjutan wisata.
Dampak ramainya pengunjung pun terasa hingga ke warung-warung kecil di sekitar kawasan. Penjual makanan, penyedia penginapan, hingga pedagang cendera mata kembali merasakan denyut ekonomi yang sempat melambat. Ada harapan yang tumbuh, seiring hangatnya air dan ramainya wisatawan.
Di awal Tahun Baru 2026, Guci tidak hanya menawarkan air panas dan panorama alam. Tetapi justru Ia menawarkan cerita tentang kebersamaan, tentang bangkit setelah bencana, dan tentang kehangatan yang lahir dari kerja bersama.
Di antara kabut, uap air, dan suara tawa, Guci kembali menemukan denyutnya hangat, hidup, dan penuh harapan. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Wisata Guci di Awal Tahun 2026, Pembayaran QRIS Jadi Pilihan Ribuan Wisatawan Berkunjung
| Pewarta | : Cahyo Nugroho |
| Editor | : Deasy Mayasari |