Mayoritas Embung di Susukan Banjarnegara Mangkrak
Dari total enam embung yang ada di wilayah Kecamatan Susukan, saat ini tercatat tinggal dua embung yang masih berfungsi cukup baik, salah satunya berada di Desa Kemranggon, Kecamatan Susukan.
Banjarnegara – Sejumlah embung atau tempat penampungan air di wilayah Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, saat ini kondisinya memprihatinkan dan mangkrak. Embung yang seharusnya berfungsi menampung air untuk persediaan musim kemarau tersebut justru kering kerontang.
Tidak hanya kering, bangunan bernilai puluhan juta rupiah ini juga mengalami kerusakan di beberapa bagian karena tidak mendapatkan perawatan yang semestinya.
Berdasarkan pengamatan TIMES Indonesia di lapangan, sejumlah embung sebenarnya dibangun di kawasan pinggiran sungai. Namun, saat musim kemarau tiba, aliran sungai setempat turut mengering.
Hanya sebagian kecil embung yang terpantau masih mampu menampung air hingga saat ini. Menurut penuturan sejumlah warga, mayoritas embung tersebut bahkan hanya berfungsi beberapa bulan saja setelah diresmikan.
Dari total enam embung yang ada di wilayah Kecamatan Susukan, saat ini tercatat tinggal dua embung yang masih berfungsi cukup baik, salah satunya berada di Desa Kemranggon, Kecamatan Susukan.
Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banjarnegara, Firman Sapta Ady, membenarkan bahwa sebagian besar embung di Kecamatan Susukan sudah tidak berfungsi secara optimal.
"Embung tersebut rusak akibat kurangnya perawatan sehingga tidak mampu lagi menampung air," ujar Firman saat dikonfirmasi TIMES Indonesia, Rabu (24/6/2026).
Firman menilai, lokasi pembangunan embung sebenarnya sudah dekat dengan sumber air atau sungai. Namun, ketika kemarau melanda seperti saat ini, debit air sungai ikut mengering. "Padahal, fungsi utama embung adalah menampung air sebagai cadangan saat terjadi kekeringan," jelasnya.
Hal senada disampaikan oleh anggota DPRD Banjarnegara asal Kecamatan Susukan, Martoyo, S.Sos. Ia menyarankan agar infrastruktur penampung air yang mangkrak tersebut dialihkan untuk kegiatan lain yang lebih produktif bagi masyarakat.
"Kemarin ada wacana dari warga untuk memanfaatkannya sebagai kolam perikanan. Kalau memang ada sumber airnya, saya kira itu jauh lebih baik daripada dibiarkan mangkrak," kata Martoyo.
Terkait wacana alih fungsi embung untuk sektor perikanan tersebut, baik pihak dinas maupun DPRD menyatakan dukungannya, dengan catatan ketersediaan sumber air di lokasi tetap memadai.
Sementara itu, informasi dari pihak Kecamatan Susukan menyebutkan, beberapa embung yang masih memiliki sumber air rencananya akan dimanfaatkan warga untuk budidaya kolam ikan dengan sistem bioflok. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

