Kekeringan Terus Meluas di Banjarnegara, DPRD Usulkan Pembuatan Sumur Bor
Data terbaru yang diperoleh dari BPBD, menyebut kekeringan melanda 44 desa dan delapan kelurahan di 13 kecamatan dengan dampak mencapai 32.555 jiwa.
BANJARNEGARA – Kekeringan terus meluas di Kabupaten Banjarnegara.
Data terbaru yang diperoleh dari BPBD, menyebut kekeringan melanda 44 desa dan delapan kelurahan di 13 kecamatan dengan dampak mencapai 32.555 jiwa.
Hingga saat BPBD Banjarnegara telah mendistribusikan 6,54 juta liter air bersih. Pemkab Banjarnegara juga akan membangun sistem penyediaan air minum di 11 desa rawan kekeringan untuk jangka panjang.
Tidak itu saja DPRD setempat juga segera menginisiasi pembuatan sumur - sumur bor di desa - desa yang rawan Kekeringan kekeringan.
Wakil Ketua DPRD Banjarnegara H Bambang Suparno menyebut, kemarau panjang yang terjadi tahun ini akibat fenomena El Nino, sehingga harus diwaspadai bersama.
Diakuinya, keadaan warga terdampak kekeringan semakin memprihatinkan karena sumber - sumber air yang biasa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari - hari sebagian besar sudah mengering.
"Daerah selatan Banjarnegara memang memiliki karakteristik pegunungan tandus, sehingga tidak mampu menyimpan air cukup lama," ujar politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Banjarnegara, Selasa (8/9/2026).
Dropping Air Bersih
Dalam situasi sulit air bersih, warga di daerah kekerigan diminta untuk menghemat air, apalagi bagi warga yang mengandalkan droping air bersih dari BPBD maupun pihak lain.
Bambang Suparno yang juga sebagai pengusaha berkomitmen untuk membantu droping air bersama koleganya, baik secara pribadi maupun berkoordinasi dengan BPBD Banjarnegara.
"Kami bersama tim juga rutin melakukan droping air bersih, terutama bagi warga sekitar yang sangat membutuhkan air bersih, seperti Desa Petir, Wanadri, " ungkapnya.
Itu, kata Bambang merupakan solusi pertama. Kemudian solusi ke dua, pihaknya menginisiasi pembuatan sumur bor di desa - desa rawan air.
"Sumur bor, merupakan salah satu solusi untuk mengatasi kekerigan di daerah yang sangat rawan kekeringan seperti Desa Petir, Wiramastra dan Kalitengah di Kecamatan Purwanegara," imbuhnya.
Tanam Kopi Dapat Serap Air
Ditanya terkait kondisi tanah di daerah selatan Banjanegara yang semakin tandus dan ketergantungan pada pupuk kimia, Bambang menyarankan para petani untuk melakukan penanaman pohon yang memiliki akar kuat dan dapat menyimpan air.
Bahkan saat dimintai tanggapan terkaitnya sejumlah petani singkong dan cabai di daerah Pucungbedug dan sekitarnya beralih menanam kopi, Bambang Suparno menyampaikan dukungannya.
Tanaman kopi sesuai informasi Dinas Pertanian Banjarnegara juga baik untuk penyerapan air. "Bahkan tidak itu saja, kopi memiliki nilai ekonomis tinggi, disamping harganya cenderung stabil, juga menjadi proyeksi pemerintah pusat," imbuhnya.
Bambang Suparno menambahkan, jika tanaman kopi juga dapat tumbuh subur di sejumlah daerah kering di selatan Banjanegara. "Saya kebetulan tanam kopi juga, jika perawatan baik, perkembangan cukup bagus," kata Bambang Suparno lagi.
Terpisah Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Tanaman Pangan Banjarnegara, Firman Sapta Ady menyambut baik banyaknya petani di daerah selatan Banjarnegara menanam kopi. Karena tanaman kopi salah satu hilirisasi perkebunan yang di canangkan oleh Presiden RI. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

