Menembus Pintu Pagar Museum Sekolah, Perpustakaan Soetta Buka Lorong Waktu Literasi Slawi
Pintu pagar yang menghubungkan Museum Sekolah dan Perpustakaan Soetta (Soekarno-Hatta) menjadi awal dari gagasan besar menjadikan Slawi sebagai kota literasi berbasis budaya.
TEGAL – Bagi sebagian orang, pintu pagar hanyalah jalan masuk dan keluar. Namun di kawasan Monumen GBN Slawi, Kabupaten Tegal, sebuah pintu pagar memiliki makna lebih besar. Ia menjadi penghubung antara kenangan masa lalu dan harapan masa depan.
Kelak, seorang anak yang datang ke kawasan itu tidak hanya melihat benda-benda lama di Museum Sekolah. Ia juga tidak sekadar duduk membaca buku di perpustakaan.
Ia akan diajak melakukan perjalanan waktu: mengenal bagaimana pendidikan tumbuh dari masa lalu, lalu melihat bagaimana pengetahuan berkembang di era digital.
Pintu pagar yang menghubungkan Museum Sekolah dan Perpustakaan Soetta (Soekarno-Hatta) menjadi awal dari gagasan besar menjadikan Slawi sebagai kota literasi berbasis budaya.
Selama ini, dua fasilitas milik Pemerintah Kabupaten Tegal tersebut sebenarnya berdiri berdampingan. Namun, jarak beberapa langkah yang tampak sederhana ternyata menjadi batas yang membuat sebagian pengunjung hanya memilih salah satunya.
Ada yang datang ke museum untuk mengenang sejarah, tetapi belum sempat menikmati layanan perpustakaan. Ada pula yang datang mencari buku dan ruang belajar, tetapi belum mengenal cerita panjang yang tersimpan di Museum Sekolah.
Melihat kondisi itu, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Kabupaten Tegal mencoba menghadirkan jembatan baru. Bukan hanya jembatan fisik, tetapi juga jembatan pengalaman.
“Pengunjung sering kali hanya mengunjungi salah satu destinasi saja karena belum adanya konektivitas ruang, terlebih integrasi alur kunjungan,” ujar Sekretaris Disperpusip Kabupaten Tegal Hari Nugroho.Selasa 28 Juli 2026
Kini, pintu pagar penghubung telah dibuat. Pengunjung museum yang membutuhkan tempat parkir tambahan dapat memanfaatkan area perpustakaan. Begitu pula pemustaka dapat langsung menuju museum tanpa harus keluar kawasan dan berjalan memutar.
Namun, inti dari gagasan ini bukan semata soal kemudahan akses. Lebih jauh, pintu pagar tersebut dirancang sebagai simbol perjalanan literasi.
Di tempat ini, pengunjung akan diajak mengenali masa lalu: jejak pendidikan, sejarah sekolah, nilai budaya, serta cerita tentang bagaimana generasi terdahulu membangun pengetahuan dengan segala keterbatasannya.
Museum menjadi lorong waktu mengingatkan bahwa pendidikan hari ini berdiri di atas perjuangan panjang masa lalu.
Setelah melewati pintu pagar, suasana berubah. Pengunjung memasuki Perpustakaan Soetta yang membawa semangat masa depan.
Di sana, literasi hadir dalam wajah yang lebih modern melalui ruang baca, layanan digital, akses internet, serta ruang kreatif bagi anak anak.
“Konsepnya menempatkan museum sebagai masa lalu atau lorong waktu sejarah pendidikan, preservasi, galeri sejarah dan budaya yang terhubung ke perpustakaan sebagai masa depan,” kata Hari.
Konsep inilah yang membuat wisata literasi berbeda dari kunjungan biasa. Pengunjung tidak hanya melihat koleksi, tetapi mengalami cerita. Tidak hanya menerima informasi, tetapi diajak memahami hubungan antara sejarah dan perkembangan zaman.
Rencana tersebut mendapat apresiasi dari Asisten Administrasi Pembangunan Sekda Kabupaten Tegal Dessy Arifianto.
Menurutnya, pembangunan daerah tidak cukup hanya dengan hadirkan infrastruktur fisik, tetapi juga harus memperkuat kualitas manusia melalui budaya literasi.
“Agenda pembangunan daerah tidak hanya berorientasi fisik, namun juga penguatan kualitas sumber daya manusia melalui pembangunan literasi,” ujarnya.
Pengembangan kawasan ini juga menjadi bagian dari upaya perkuat fungsi Monumen GBN Slawi sebagai zona literasi.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal menyambut baik rencana tersebut, meski masih diperlukan penataan lingkungan dan gedung Museum Sekolah agar semakin menarik bagi wisatawan.
Sementara itu, Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Tegal siap mendukung promosi paket wisata literasi tersebut ketika diluncurkan.
Pada akhirnya, sebuah pintu pagar sederhana membawa pesan yang mendalam. Bahwa masa lalu tidak harus ditinggalkan ketika menyambut masa depan. Keduanya dapat berjalan bersama melalui literasi.
Di Slawi, perjalanan itu akan dimulai dari sebuah pintu pagar sebuah pintu kecil membuka ruang besar bagi pengetahuan, sejarah, dan mimpi generasi mendatang. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

