Peluang Bisnis Ikan Channa Auranti, Warga Magelang Ini Sulap Rumah Jadi Lokasi Budidaya
Adi Rismawanto berpose di depan aquarium-aqurium miliknya. (FOTO: Hermanto/TIMES Indonesia)

Peluang Bisnis Ikan Channa Auranti, Warga Magelang Ini Sulap Rumah Jadi Lokasi Budidaya

Kisah Adi Rismawanto, warga Borobudur Magelang yang sukses mengubah ruang tamu rumahnya menjadi tempat usaha pembesaran ikan predator Channa auranti dengan omset menjanjikan.

TIMES Jateng,Minggu 31 Mei 2026, 10:44 WIB
261
H
Hermanto

MagelangPuluhan akuarium berjajar rapi memenuhi sebagian besar ruang tamu sebuah rumah di Dusun Kesuman 2, Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Gemericik air dan gerak lincah ikan-ikan predator air tawar menjadi pemandangan sehari-hari di kediaman Adi Rismawanto.

Ruang tamu yang biasanya berfungsi menerima kunjungan, kini beralih menjadi tempat usaha pembesaran ikan Channa auranti. Ini adalah salah satu jenis ikan hias predator yang tengah diminati kolektor dan penghobi.

Pria kelahiran 15 Juni 1985 tersebut memulai usaha pembesaran ikan Channa sekitar satu setengah tahun lalu. Sebelum fokus ke Channa auranti, ia sempat membesarkan jenis Channa marulioides atau maru. Namun, seiring waktu pasar jenis maru mulai menurun.

“Dulu saya membesarkan maru, tapi pasarnya mulai sepi. Akhirnya mencoba auranti karena melihat peluangnya masih bagus,” ujar Adi kepada TIMES Indonesia, Sabtu (30/5/2026).

article
Salah satu ikan Channa Auranti yang menjadi koleksi Adi. (FOTO: Hermato/ TIMES Indonesia)

Keputusan tersebut diambil karena tren pembesaran ikan Channa di lingkungan tempat tinggalnya berkembang pesat. Sebagian besar pelaku usaha di wilayah itu sebelumnya merupakan peternak kambing yang beralih profesi karena peluang ekonomi ikan hias dinilai lebih menjanjikan. Selain modal fleksibel, pemasaran kini lebih mudah berkat media sosial dan jaringan komunitas.

Untuk memulai usaha, pria yang akrab disapa Anto ini membeli bibit Channa auranti asal India dari pembudidaya di Wonosobo. Ukuran ikan saat dibeli rata-rata 3 sentimeter dengan harga sekitar Rp250 ribu per ekor.

Setelah dirawat selama satu hingga dua setengah bulan, ukuran ikan dapat mencapai 10 hingga 15 sentimeter. Pada ukuran tersebut, harga jualnya bisa menyentuh kisaran Rp500 ribu per ekor, tergantung kualitas warna, ukuran, dan karakter ikan.

Pasar ikan hias ini sudah menjangkau luar daerah. Sebagian besar hasil pembesaran dijual kepada pedagang dari Yogyakarta atau disalurkan kembali ke Wonosobo. Di sela waktu luangnya sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) paruh waktu, Adi juga memanfaatkan media sosial untuk menjangkau pembeli langsung.

Berdasarkan informasi dari pembeli, beberapa ikan hasil budidayanya bahkan diekspor ke luar negeri untuk kebutuhan kontes dan koleksi, termasuk ke Vietnam, Thailand, hingga China.

Saat ini terdapat sekitar 38 akuarium berbagai ukuran di rumah Adi yang digunakan sebagai wadah pembesaran. Jumlah tersebut rencananya akan ditambah sebanyak 30 akuarium lagi guna meningkatkan kapasitas produksi usaha.

Merawat ikan Channa memerlukan ketelatenan. Setiap empat hari sekali, Adi dibantu sang istri rutin mengganti air demi menjaga kualitas ikan. Pakan yang diberikan pun disesuaikan; pelet berkualitas untuk ikan kecil, serta tambahan bancet atau katak sawah untuk ikan besar guna menunjang pertumbuhan dan membentuk karakter predator alami.

Meski menjanjikan, usaha ini tetap memiliki risiko, seperti serangan penyakit jamur, pertumbuhan yang lambat, hingga kematian ikan.

“Saya pernah mengalami dalam satu minggu kehilangan atau mati empat ekor bibit. Kalau sudah begitu ya harus sabar,” kata Adi.

Di kalangan penghobi, Channa auranti asal India ini memang memiliki daya tarik tersendiri karena warna tubuh yang menarik, karakter agresif, serta nilai jual yang tinggi pada ukuran tertentu.

Ke depan, Adi berkomitmen membesarkan ikan hingga ukuran yang lebih maksimal agar nilai jualnya semakin meningkat. Baginya, usaha ini bukan sekadar bisnis sampingan, melainkan peluang jangka panjang yang prospektif seiring meningkatnya tren ikan hias predator di Indonesia. Dari ruang tamu rumahnya di Borobudur, Adi membuktikan hobi yang ditekuni dengan jeli dapat menjadi peluang usaha yang menjanjikan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Hermanto
|
Editor:Deasy Mayasari

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jawa Tengah, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.