TIMES JATENG, BANJARNEGARA – Desa Jenggawur Kecamatan Banjarmagu Kabupaten Banjarnegara sudah lama dikenal sebagai sentra beras premium. Bahkan daerah ini dinobatkan sebagai penyangga pangan Kabupaten Banjarnegara.
Walau luas lahan sawah di desa ini hanya sekitar 121 hektare, beras Jenggawur mampu mendongkrak perekonomian petani lantaran harga beras lebih tinggi ketimbang harga beras lain di Kabupaten Banjarnegara.
Beras Jenggawur disebut setara dengan beras Delanggu dari Klaten, Beras Pandan Wangi dari Cianjur dan beras Brastagi dari Sumatra Utara yang sudah lebih dulu dikenal sebagai beras premium istimewa.
Harga Beras Jenggawur Bertahan
Koordinator Penyuluh di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Banjarmangu, Cahyana Sembada menyampaikan, keunggulan beras Jenggawur itu karena faktor tanah.
Tekstur tanahnya berbeda, begitu juga air yang yang mengairi sawah tersebut berasal dari Sungai Merawu. "Itulah yang membuat rasa nasinya lebih enak dibandingkan daerah lain, meski jenis varietasnya sama," ujar Cahyana kepada media Selasa (13/1/2026).
Para petani di Desa Jenggawur mengandalkan varietas Inpari 32 sebagai primadona baru menggantikan IR 64 disamping varietas Barito. Dua jenis padi ini menjadi primadona.
Pranyoto, Kades Jenggawur Kecamatan Banjarmagu Kabupaten Banjarnegara
Disampaikan juga luasan baku sawah di Jenggawur mencapai 121 hektar. Produktivitasnya pun cukup menjanjikan, yakni rata-rata 5 ton hingga maksimal 7,5 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektar.
"Harganya pun cenderung lebih tinggi. GKP di tingkat petani minimal Rp.6.500 per kilo, sedangkan harga berasnya di pasar bisa mencapai Rp14.000 hingga Rp16.500 per kilogram," tambahnya.
Pun demikian padi Jenggawur tetap diburu oleh konsumen. Bahkan sejumlah pedagang dari luar daerah seperti Wonosobo, Semarang dan Jakarta banyak berburu Padi Jenggawur.
Senada juga Kepala Desa Jenggawur, Pranyoto. Ia juga menyampaikan bahwa padi premium banyak dikonsumsi oleh rumah makan besar di sejumlah daerah di Jawa Tengah.
"Rasanya lebih enak, pulen dan tidak cepat basi," ujarnya seraya menambahkan jika pesanan lokal juga terus meningkat.
Diakuinya, dalam dua tahun terakhir ini, hasil panenan padi Jenggawur mengalami penurunan akibat rusaknya Bendungan Clangap.
"Alhamdulillah, para petani terbantukan saluran air yang dibuat warga dan Pemkab Banjarnegara di atas bendungan Clangap," ujarnya lagi.
Kendati hasil panen menurun, namun bisa memenuhi kebutuhan pangan lokal. "Kami berharap bendungan Clangap segera dibangun lagi, mengingat satu - satunya sumber air untuk memenuhi kebutuhan sekitar 800 ha lahan sawah yang tersebar di 7 Desa di Kecamatan Banjarmagu, Madukara dan Wanadadi," imbuhnya.
Kades Jenggawur juga menyampaikan bahwa untuk meningkatkan pendapatan petani, pihaknya berencana memperkuat peran Bumdes dan bersinergi dengan Koperasi Merah Putih.
"Wacananya ke depan kita ingin kumpulkan jadi satu produk unggulan desa melalui Bumdes. Tujuannya satu yaitu agar petani lebih sejahtera dan harga tetap stabil bagi masyarakat Banjarnegara," harapnya.
Sementara itu, untuk menjaga kualitas dan meningkatkan produksi, Dinas Pertanian Banjarnegara kini mulai memperkenalkan penggunaan drone penyemprot pupuk dan pestisida. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Desa Jenggawur Jadi Sentra Beras Premium Banjarnegara, Kini Banyak Diburu Konsumen
| Pewarta | : Muchlas Hamidi |
| Editor | : Deasy Mayasari |